CERPEN 2

Suatu Senja di Sekolahku

Oleh: Rustiani Widiasih

Pukul 13.00, suatu siang yang damai di SMAN I Badegan. Matahari masih memancarkan sinarnya. Sinar yang cemelorot dibalik pohon beringin yang bertengger di depan sekolah. Rasanya seperti berada di tenggah pasar yang sudah tutup. Sepi senyap seketika begitu jam tutup tiba.
Pada saat seperti sekarang ini kebanyakan siswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang masih tersisa adalah seorang kebon dan beberapa anak di ruang Osis. Pak Kebon itu membereskan meja yang dipenuhi gelas-gelas kosong serta abu rokok di asbak tua . Tidak terengar lagi suara meja kursi dipukul-pukul siswa yang menirukan gaya grup band terkenal layaknya. Beberapa penggembala tampak melepaskan hewan ternaknya memakan rumput di lapangan sekolah.
Pintu Kopsis yang terletak kira-kira 10 meter dariku, yang sejak pagi tadi tidak pernah sepi dari lalu lalang anak-anak yang sedang kelaparan, kini tertutup rapat. Tiada seorangpun melewatinya. Yang ada hanya seorang pemulung sampah yang memungut gelas-gelas bekas mimuman kemasan lalu memasukkannya ke dalam karung yang disandang dipundaknya. Tampak wajahnya yang mulai senja itu letih sekali. Namun ada seberkas kebahagiaan diwajahnya. Ya, karena karungnya hampir penuh dengan barang-barang bekas yang akan dijualnya.
Disekeliligku, yang jelas terdengar adalah gemerincing gelas yang bebenturan, karena dicuci pak kebon, petugas pembantu umum dan serbaguna di sekolahku. Ia dengan leluasa mencuci gelas-gelas itu tanpa ada suara bapak dan ibu guru yang sering mengomentarinya. Juga pak kepala sekolah yang setiap saat memberikan tugas baru. Lapangan olahraga yang jaraknya kira-kira 10 meter dariku, yang tadi pagi digunakan siswa untuk olahraga, kini dipenuhi oleh lembu dan kambing. Tampak juga beberapa anak dari desa Menang bermain bola. Mereka berada jauh dari hewan piaraan gembalaan mereka. Anak-anak ini tidak punya aturan, tidak seperti para siswa yang tertib karena ada gurunya. Seringkali bola mereka menghantam kaca Musholla hingga pecah. Tiada pertanggungjawaban dari anak-anak itu. Pihak sekolahlah yang dirugikan. Suara teriakan anak-anak itu memecahkan kesunyian di sekitar sekolahku.
Ngaungan lembu sesekali terdengar menggema menghantam dinding-dinding dan kaca-kaca kelas. Terdengar juga embikan kambing yang hanya diketahui maknanya oleh Nabi Sulaiman dan Tuhannya. Mungkin itu berarti ungkapan kenyang atau apalah, aku tidak tahu.
Disebelah kananku terdapat ruang kelas yang digunakan sebagai gudang tempat menyimpan kawat bekas jendela yang sekarang sudah diganti dengan kaca. Terdengar sayup-sayup percakapan yang mirip degan pertengkaran antara pemulung sampah dengan seorang siswa.
Siswa itu masih menggunakan celana abu-abunya.. Baju atasannya bukanlah kemeja putih melainkan kaos olahraga. Sebuah tas berada dipunggungnya. Tubuhnya yang tegap menunjukka sikapnya yang tegas. Anak itu adalah salah satu anak yag tadi berada di ruang Osis. Ia memarahi tukang rosok yang tertangkap olehnya sedang mengambil kawat sepanjang 10 centimeter. Pemulung itu hendak memasukkan kawat itu ke dalam karungnya. Ada perdebatan sesaat antara mereka berdua. Waktu sudah bergeser dua jam dari pukul 13. Seorang pemulung pulang dengan karung dipundaknya. Beberapa siswa pulang dengan tas dibahunya. Beberapa penggembala pulang dengan hewan piaraannya. Anak-anak pulang dengan bolanya. Terakhir, seorang tukang kebon pulang dengan seombyok kunci untuk datang lagi besuk, pagi-pagi sekali.

****

CERPEN

Dawet Njabung Sumini
oleh: Rustiani Widiasih


Sumini telah datang dari Saudi. Dia kini berubah, tidak seperti Sumini dahulu yang utun dan lugu. Rambutnya yang dahulu hitam dan selalu diikat dengan karet gelang, kini dicat merah kekuningan dan dibiarkan terurai. Bajunya yang dulu berupa blues dan rok di bawah lutut, kini kaos ketat dan celana jins super ketat. Bagian pusar yang dulu selalu tertutup, sekarang terlihat jelas dengan kaosnya yang hanya sampai di atas pusar panjangnya. Tidak hanya itu, perhiasan emas kemrompyong menghiasi leher, tangan, telinga dan bahkan di kakinya ada gelang serta cincin di jari kakinya.
Perubahan Sumini mengejutkan banyak orang di desa Njabung, terutama Misno, suaminya. Betapa tidak, kini dia selalu menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang jarang diucapkan orang di desa itu. Dulu dia selalu basa karma mlipis dengan siapa saja.
“Mas Misno, ngapain tidak ngejemput aku di terminal? Aku nungguin lama loh. Kirain mas Misno yang ngejemput, eh malah nyuruh orang” ucap Sumini begitu tiba di rumah.
“Sum, Sum kamu kan tahu aku iki ora iso numpak sepeda montor” jawab Misno sambil mengangkat koper Sumini yang berukuran cukup besar ke dalam rumah.
Sumini lalu berkeliling rumah. Dia tidak mendapati rumahnya yang jelek dan sempit seperti yang dia lihat sebelum dia berangkat ke Saudi. Kini rumahnya luas dan bagus. Setiap dindingnya tertempel keramik sesuai yang dia inginkan. Perabotannya juga lengkap seperti yang dia minta. Dia tampak puas dengan segala yang telah ia dapatkan. Rumah bagus, perabotan lengkap, sepeda motor, perhiasan, HP, baju bagus dan penampilan baru.
***
“Mas, mengapa tevenya tidak di ganti yang layar datar? Dulu aku kan kirim buat menggantinya? Tanya Sumini suatu malam.
“Sum, sisum, lha wong teve masih bagus kok diganti. Eman-eman”.
“Mas, jangan panggil aku Sisum, dong. Masa penampilan seperti ini tetap di panggil Sisum. Panggil Mini saja ya mas”
“Ya, Mini.... tapi sebenarnya telinggaku ini gatal sekali mendengar ucapanmu. Kamu tidak biasanya memanggilku mas. Dulu kamu menanggilku kang. Tapi aku senang juga kok, he... he....” tawa Misno, menjadikan gigi-giginya yang mrongos semakin menonjol. Hal itu membuat Sumini sebal sekali. Suaminya tampak semakin jelek dan tua sekarang. Tidak ada daya tariknya sama sekali. Kadang-kadang Sumini merasa risih dengan suaminya itu. Semakin lama bertemu rasanya semakin sempurna kekurangan Misno di mata Sumini. “Sum, apa kamu masih ingin kembali ke Njedah?” lanjutnya.
“Emangnya npapain, mas?” jawab sumini sambil mengecat kuku tangannya yang panjang.
“Kamu sudah terlalu lama di sama, Sum. Sudah empat tahun. Cita-citamu sudah terwujud. Kini mari kita hidup bersama dan mempunyai anak, Sum”.
“Mas.... aku kan masih muda, usiaku baru dua puluh tiga tahun. Masih banyak kesempatan untuk mempunyai anak”.
“Tetapi aku sudah tua, Sum. Sudah waktunya punya anak dua atau tiga”.
“Terus apa yang akan kau gunakan untuk membiayai anakmu nanti? Sawah, tegalan, sapi dan kambing sudah habis terjual tak ada sisanya untuk biaya pemberangkatanku ke Njedah dulu.”
“Bukankah dulu kamu bilang kalau kamu akan berjualan dawet Njabung lagi? Sekarang makin banyak orang datang ke desa ini untuk menikmati dawet Njabung lho. Aku akan membantu dan mempersiapkan segala yang diperlukan untuk berjualan lalu kamu yang berjualan. Aku yakin dawetmu pasti laris karena kamu cantik. Hasilnya lumayan, Sum. Lihat saja, sekarang tetangga kita bayak yang berjualan Dawet. Semua laris, Sum. Bahkan Yu Lamitri katanya mau beli pikep (pick up)”. Tutur Misno.
***
Sumini mengurungkan niatnya untuk kembali ke Saudi. Dia menuruti keinginan suaminya berjualan dawet Njabung . Tidak sulit baginya untuk membuat dawet Njabung karena dulu sebelum menjadi TKW, Sumini adalah seorang penjual dawet Njabung. Selain itu, almarhumah simboknya juga penjual dawet. Sejak kecil dia sudah hafal betul bagaimana komposisi membuat dawet Njabung yang enak dan nikmat.
Dawet Njabung memang enak sekali. Betapa tidak, cendol terbuat dari tepung garut pilihan, santan dipilih dari kelapa yang tidak terlalu tua, tidak terlalu muda. Kuahnya terbuat dari gula putih dimasak beraroma pandan wangi. Disuguhkan dengan ditambah tape ketan hitam dan tabahan gempol, yakni tepung beras di campur dengan air, gula sedikit dan garam, di bentuk bola-bola kecil, kemudian di masak di dandang jadilah gempol.
Juruhnya terbuat dari saus gula putih yang dicampur dengan legen. Legen adalah hasil nderes (panen) bunga batang aren lalu airnya di tampung dalam wadah bumbung bambu, biasanya di panaskan sedikit supaya tidak cepat basi. Jika legen tidak cepat digunakan, semalam saja legen akan menjadi minuman yang memabukkan
Sumini beruntung sekali bisa membeli sepetak tanah di pinggir jalan. Dia berada di antara penjual-penjual angkring yang berjajar di desa Jabung di sebelah selatan Ponorogo sekitar 3 km, kearah Pondok pesantren Gontor ponorogo. Ada tulisan “Dewet Njabung Mini” di depan angkrig Sumini.
Penampilan Sumini yang “eksotik”, menarik para pembeli dawet. Pelanggan Sumini banyak sekali. Bahkan, beberapa pelanggan Yu Lamitri, Ponirah dan penjual lainnya banyak yang pindah ke Sumini.
Sumini seringkali harus sabar menghadapi para pelanggan yang berasal dari luar daerah. Para pelanggan itu belum tahu kebiasaan yang ada pada penjualan dawet Njabung. Mereka belum tahu cara penyajian dawet yang cara penyajiannya langsung handover, tanpa baki atau nampan. Penjual hanya menggunakan lepek (tatakan, cawan, piring kecil), sedangkan pembeli hanya boleh mengambil mangkuknya. Apabila pembeli mengambil mangkuk dan lepeknya, maka penjual akan menahan lepek tersebut dan mengatakan: “Mas, mangkoknya saja yang diambil”.
Ada mitos yang dipercaya oleh masyarat Ponorogo bahwa , jika ada pembeli laki-laki yang mengambil lepek, dan si penjual membiarkannya berarti sang penjual bersedia “Menikah” dengan laki-laki tersebut, sebaliknya jika laki-laki tersebut sengaja mengambil lepek berarti ia “Naksir” terhadap penjualnya.
***
Dawet Njabung tidak membuat orang bosan untuk meminumnya, sebaliknya orang akan ketagihan jika lama tidak meminumnya. Orang-orang Njabung biasa mampir ke angkringan dawet Njabung pada siang hari untuk sekedar menghilangkan dahaga.
Siang itu tampak warok Suroprojo diantaran para pelanggan yang lain. Seperti biasa, dia suka memperhatikan gemulainya tangan Sumini dalam menyajikan dawet Njabung. Tangan itu memang putih, mulus serta lincah mengambil mangkuk, cawan, memegang irus (gayung) yang bertangkai tokoh wayang, Janoko. Lalu Menyiduk cendol, santan, juruh, air garam, tape ketan hitam, gempol dan memberikan es batu sesuai dengan selera pembeli. Dawet itu lalu disajikan dalam mangkuk dan sendok bebek di atas tatakan kecil.
Sambil menanti penyajian dawet, warok Suruprojo dan para pembeli bisa menikmati berbagai hidangan yang ada di meja. Sumini sudah mempunyai orang tetap yang mensuplai jajanan seperti tempe goreng, cucur, pisang goreng, tape ketan, pia-pia, tahu isi, lumpia, dadar gulung, gethuk, tahu goreng, rimbil dan gandos. Itu semua adalah makanan khas di desa Njabung.
“Seger tenan dawetmu, Sum” ucap warok Suroprojo yang sudah dianggap sebagai bapaknya orang-orang Njabung. Sesekali dia mengusap brengosnya yang panjang karena basah terkena dawet Njabung.
Tidak lama kemudian Supri datang. Supri adalah pelanggan baru Sumini. Sudah beberapa hari ini dia mampir ke angkring Sumini. Tatapan matanya membuat Sumini salah tingkah. Pertama kali dia datang ke angkring Sumini, dia menarik lepek kuat-kuat.
“Mas, yang diambil mangkuknya saja” kata sumini.
“Tetapi saya menginginkan lepek itu, Mbak Mini” sahut Supri dengan senyuman yang ramah dan menggoda.
“Maaf, mas. Lepeknya hanya satu. Nanti bakule katut”
“Wah, kalau katut saya senang sekali lha wong bakule cantik”
Sumini sudah biasa dirayu dan dipuji pembeli. Namun, rayuan dan pujian Supri menimbulkan kesan yang berbeda di hati Sumini. Bahkan, Sumini selalu menanti –nanti kedatangan Supri setiap hari. Jika Supri tidak datang harinya terasa hampa.
Kali ini Supri tidak bisa merayu-rayu lagi. Ada banyak sekali pelanggan. Dia hanya sesekali menatap Sumini dengan pandangan yang membuat hati Sumini berdebar-debar. Kalau sudah begitu Sumini menjadi salah tingkah.
“Sum, ini santannya” kata Misno sambil menyodorkan panci yang berisi santan. Sumini tampak gugup dan kaget dengan ucapan suaminya yang tiba-tiba saja. Ucapan yang membuyarkan semua bayangan semunya. Sumini lalu menuangkan santan ke jun tempat santan dan memberikan pancinya kembali pada Misno.Misno bekerja “di balik layar”. Dia memarut kelapa, mencuci mangkuk, merebus juruh dan dua hari sekali menderes legen ke kebun.
Bagi Sumini dan bagi siapa saja, Supri sungguh berbeda dengan Misno. Supri begitu romantis, ganteng, muda dan gagah. Sedangkan Misno? Dia sudah tua, giginya mrongos, berpenampilan ndesani. Jika mereka bersanding ibaratnya bagaikan bumi dan langit.
***
Suatu malam Misno mendapati Sumini sedang termenung. Sejak sore harinya dia tidak berkata-kata.
“Ada apa, Sum? Mengapa sejak tadi melamun terus? Apa yang kamu pikirkan?” tanya Misno sambil memegang pundak Sumini. Sumini menghindar dari Misno. Tangan Misno dia lepaskan dari pundaknya. Dia merasa risih dengan Misno. “Mengapa kamu ini? Apa aku telah berbuat salah padamu?” tanya Misno lagi.
“Tidak ada yang salah. Aku hanya capek saja”
“Kalau begitu sini saya pijat”
“Tidak usah. Aku mau tidur saja” ucap Sumini sambil beranjak ke kamarnya.
Misno sungguh tidak mengerti dengan tingkah polah Sumini. Dia hanya bisa diam dan sabar menghadapi orang yang sangat dia cintai itu. Untuk menghilangkan segala kekecewaanya, dia menghisap rokok tingwenya. Berkali-kali ia menggulung kertas papir yang telah diisi tembakau dan cengkeh, lalu menghisapnya dalam-dalam.
***
Suatu siang, Supri datang ke angkring Sumini. Tidak ada pelanggan lain siang itu. Supri duduk dekat sekali dengan Sumini. Ketika Sumini memberikan dawet Njabung, Supri menarik keras-keras cawannya. Mata mereka saling memandang. Akhirnya Sumini tidak kuasa menghadapi tatapan mata Supri. Lepek berhasil ditarik Supri.
“Apa artinya ini, Mini?” tanya Supri. “Apa kamu menerimaku?” Sumini hanya dian. Mukanya merah padam. Dia agak gugup.”Apa kamu takut dengan suamimu,Mini? Adakah dia sekarang?”
“Tidak. Dia sedang menderes”
“Mini, aku sangat mencintaimu. Apa kau percaya padaku? Jika aku tidak mencintaimu, mengapa aku pergi ke sini setiap hari? Ayolah, Mini kita pergi berdua. Sesekali kamu harus istirahat. Mari kita pergi ke kota. Ke alun-alun berdua saja.”
“Tapi aku takut sama Misno”
“Kita atur dengan lebut sekali. Jangan sampai dia curiga. Hanya aku dan kamu yang tahu, bagaiman?”
Sumini belum sempat menjawab pertanyaan Misno, lalu datanglah pelanggan lain. Suasana menjadi hening, tanpa kata-kata. Pikiran Sumini tidak menentu.
***
Malam yang dingin. Misno mendekati Sumini.
“Sum, kalau kita punya anak pastilah rumah ini tidak sesepi ini” kata Misno membuka pembicaraan. Yang diajak bicara hanya diam saja sambil mengoleskan hand body ke seluruh tangan dan kakinya. Sesekali dia menjawab sms di Hpnya. Sms yang tidak akan diketahui isinya oleh Misno yang tidak bisa mengoperasikan HP. “Baumu harum, Sum”.
“Mas aku bosan sekali. Aku ingin pergi ke kota untuk sekedar menghilangkan penat.”
“Wah, kebetulan sekali. Aku sudah lama tidak pergi ke alun-alun. Aku juga ingin membeli putu dan pisang molen.”
“Tapi aku ingin pergi dengan Lastri”
“Ya sudah kalau begitu. Nanti pulangnya belikan aku putu dan molen, ya”.
Tidak lama kemudian Hp berbunyi.
“Mas, aku pergi dulu. Lastri sudah menungguku. Nanti kamu saya belikan putu dan pisang molen” kata Sumini lalu bergegas meninggalkan rumah.
***
Supri telah menunggu Sumini di dekat jembatan seperti yang telah ia janjikan. Mereka lalu pergi ke alum-alun dengan sepeda motor Supri. Sesampai di alun-alun, pasangan yang sedang dimabuk cinta tersebut mencari tenpat duduk yang nyaman. Mereka duduk di rerumputan taman di depan gedung Graha Praja yang berlantai delapan, satu-satunya bangunan berlantai delapan yang ada di Ponorogo. Degan cahaya lampu yang remang-remang, suasana malam itu indah sekali seindah bunga-bunga yang ada di sekitarnya.
Malam telah larut, mereka masih asyik bercengkerama hingga lupa segalanya termasuk pesanan Misno, putu dan pisang molen. Pukul satu dini hari, mereka baru pulang.
Di rumah, Misno menanti kedatangan Sumini sampai tertidur di epan televisi. Sumini membuka pintu yang tidak dikunci dengan pelan-pelan sekali agar suaminya tidak terbangun. Dia lalu memasuki kamarnya. Dia mengantuk sekali lalu tertidur hingga pagi harinya Misno membangunkan Sumini.
“Sum, sudah siang. Kita harus cepat siap-siap membuat cendol. Hari ini hari Pon, hari pasaran, rame, Sum” kata Misno sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sumini. Sumini tidak juga membuka matanya. Rasa kantuknya teramat sangat. Misno merasa jengkel dengan Sumini. Dia mengambil segayung air lalu mengusap wajah Sumini dengan air itu. Sumini marah sekali pada Misno.
“Hari ini kita prei saja. Aku capek sekali”
“Apa? Kamu capek? Semalam kamu bilang jenuh, sekarang capek. Ada apa kamu ini, Sum?” kata Misno dengan nada tinggi. “Kalau kamu terus begini aku tidak kuat, Sum. Aku sudah begitu sabar menghadapimu akhir-akhir ini”
Sumini masih saja diam. Itu membuat Misno tidak bisa mengendalikan diri.
“Ayo katakan pasti ada yang tidak beres”
“Ya. Aku muak denganmu, Misno!”
“Apa? Apa salahku padamu?”
“Tidak ada. Tetapi aku benci sama kamu”
Mendengarnya Misno menjadi tersinggung. Dia telah mengorbankan segala yang ia punya agar Sumini bisa berangkat ke Saudi. Kini setelah semua tercapai, tiada kebahagiaan yang didapatkannya. Sebaliknya Sumini menjadi acuh dengannya.
“Tidak kusangka kamu akan berubah seperti itu, Sum. Aku memang sudah tua. Mungkin tidak sebanding denganmu yang masih muda. Tapi aku ini sudah menunggumu lama sekali . Aku menuruti semua permintaanmu sampai-sampai aku tidak punya apa-apa lagi. Semua demi kamu. Sum. Jangan kira aku bahagia dengan semua ini. Kebahagiaan itu keutuhan, Sum. Berkumplnya istri dan suami lalu memuliki anak dan hidup bersama-sama. Jangan-jangan kamu memiliki simpanan, ya”
“Maaf, kang. Entah mengapa perasaanku menjadi seperti ini kepadamu.”
***
Beberapa hari angkring Dawet Njabung Mini tutup. Para pelanggan, termasuk warok Suroprojo menanyakan hal itu pada Ponorah, penjual dawet di sebelah angkring Sumini. Ponirah juga tidak mengetahui mengapa Sumini tidak berjualan. Warok Suroprogo lalu pergi ke rumah Sumini.
“Piye kowe kuwi, dawetmu dienteni wong-wong kok ora dodolan?” Tanya warok Suroprojo mengawali pembicaraan.
“Sum, nggawe benteran kono, moso mung di suguh anggur?” kata Misno menghidupkan suasana yang kaku. Lalu Sumini pergi ke dapur membuat kopi untuk tamunya. “Ngene Pakdhe, Sepertinya Sumini sudah tidak mencintai saya lagi. Dia memiliki simpanan. Dia tidak mau mempunyai anak denganku” Tidak lama kemudian Sumini datang sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi.
“Sum, bloko wae karo Pakdhe. Apa benar kamu sudah tidak mencintai Misno lagi?” tanya Suroprojo. Sumini hanya dian menunduk. “
“Jawablah, Sum” sahut Misno.
“Dengar Sum, aku ini sudah menganggap kalian berdua sebagai anakku sendiri, anggap saja aku sebagai pengganti bapakmu yang sudah tiada.” Suasana hening sejenak. “Apa benar kamu mencintai orang lain?” tanya Suroprojo lagi.
“Iya, Pak dhe”
“Siapa laki-laki yang telah merebut hatimu, Sum” tanya Misno dengan nada tinggi.
“Kamu diam saja, No. Biar saya yang berbicara dengan Sisum. Siapakah laki-laki yang itu, Sum? Katakan padaku”
“Supri, Pak dhe”
“Supri? Gendeng kowe, Pri. Wanine ngebut bojone wong” kata Misno dengan wajah merah padam.
“Tenang, tahan emosimu. Biar aku berbicara. Nduk Sumini, kamu bekerja menjadi sebagai penjual dawet Njabung.Itu pekerjaan yang mulia. Kamu memberi kesenangan, dan menghilangkan dahaga orang-orang yang kehausan di kala siang hari. Kamu dapat uang yang halal dengan usahamu itu. Memang, banyak lelaki senang melihat bakul yang ayu sepertimu. Jangan begitu mudah tergoda oleh rayuan dan pujian para pembeli. Kamu harus mempunyai harga diri. Jangan maenjadi penjual yang murahan semurah harga dawetmu. Jangan kau umbar cintamu pada setiap pembeli.
Kamu tahu Nduk, Supri itu bukan orang yang baik. Aku sudah kenal betul dengan Supri. Dia sudah punya anak dan istri. Kamu bukan satu-satunya orang yang terkena rayuannya. Dia suka selinguh dengan siapa saja yang dia mau. Banyak lelaki yang pintar merayu wanita, karena kelemahan wanita ada di situ.
Pasti kamu membandingkan wajah Misno dengan wajah Supri. Siapa yaang tidak menginginkan wajah tampan? Semua orang pasti ingin tampan, muda dan kuat. Tetapi, siapa yang bisa mengubah taqdir Allah? Bukankah wajah tampan saja tidak cukup untuk mebina bahtera rumah tangga. Diperlukan orang yang mau mengalah, mau mengerti, dan mau berkorban.
Lihatlah Misno, dia selalu mengalah dan menuruti keinginanmu. Dulu kamu nekad ingin pergi ke Saudi karena ingin memperbaiki keadaan. Padahal kamu tidak punya apa-apa. Lalu Misno mau mengorbankan sawah, tegal dan sapinya yang merupakan sumber penghidupannya. Selama empat tahun kamu tinggalkan Misno, dan dia tetap sabar menanti kedatanganmu. Setelah kamu datang, kamu lupa diri, lupa cita-cita kalian semula, kamu terkena rayuan Supri. Jangan anggap Misno itu orang bodoh. Dia itu orang yang tulus. Kau tidak akan bisa menemukan orang yang mau berkorban seperti yang dia lakukan. Kebanyakan orang hanya bisa mengharap dan meminta tetapi jarang yang mau berkorban.
Dia telah banyak berkorban untukmu, Nduk. Lalu apa yang telah kau korbankan untukknya? Dia hanya menginginkan anak darimu saja tidak pernah kau turuti. Jika kalian memiliki anak, kalian akan bisa memiliki penerus keturunan. Wanita diciptakan untuk mempunyai anak, mengapa kamu menghindarinya? Lihatlah aku, aku tidak punya anak sendiri, Aku hanya memiliki gemblak, anak-anak yatim piatu yang butuh sekolah, butuh perlindungan. Yang akan kembali kepada orang tuanya setelah tamat sekolah. Dan meninggalkan aku sendiri. Masa tuaku seharusnya tinggal bersama keluarga, namun aku tidak punya siapa-siapa. Kamu harus memikirkan masa tuamu nanti jika kamu tidak punya anak.” tutur warok Suroprojo membuat air mata Sumini berderai menbasahi pipinya. Dia lalu mencium tangan Misno.
“Maafkan aku, mas”
“Sudahlah, Sum. Mari kita tempuh kehidupan baru kita”
“Lanjutkan menjadi bakul dawet Njabung yang tidak akan melepaskan lepeknya” ujar warok Suroprojo sambil meninggalkan keduanya yang sedang berbahagia.

***




Kenangan Terinah






ANANDA













Anak-anak Desa Pinus

ANAK-ANAK SD BUNGA PINUS

Hilangnya lembu Pak Marto mengejutkan semua orang. Bagaimana bisa lembu yang sedang digembala menghilang begitu saja? Padahal, telah diikat tali pengikat sapi itu pada sebatang pohon. Menurut Pak Karto, lembu tersebut hilang di gunung Kuniran. Lembu yang telah diikat itu ditinggalnya merumput di lereng-lereng gunung Kuniran. Ketika ia hendak pulang sore hariya, ia tidak mendapati sapinya. Ia mencari kesana-kemari namun tidak juga ditemukannya. Akhirnya ia pulang tanpa sapi.
Memang, pada musim kemarau ini semua orang di desa Tosari kesulitan mendapatkan makanan ternak. Salah satu tempat yang kelihatan hijau adalah di gunung Kuniran. Maka Pak Marto merumput dan menggembala di gunung tersebut walau jaraknya cukup jauh dari desanya.
***
Tanah di sekitar desa Tosari rengkah (pecah-pecah karena kekeringan). Tetanaman dan rerumputan mengering kecoklatan. Pohon-pohon Waru yang biasanya menghijau, kini meranggas karena daun-daunnya dipangkas orang-orang untuk pakan ternak. Sumber-sumber air kering kerontang. Salah satu sumber yang masih mengalir hanyanlah belik (sumber air di kolam kecil) di bawah pohon Beringin yang berada di ujung desa Tosari. Itu pun harus dibagi-bagi dengan banyak orang.
Keadaan yang demikian itu meresahkan semua orang. Banyak orang kesulitan mendapatkan pakan (makanan) ternak, mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari apalagi untuk bercocok tanam. Padahal, air merupakan kebutuhan vital (penting) bagi masyarakat yang sebagian besar adalah petani dan peternak sapi dan kambing. Barangkali hanya Rusti saja yang menyukai musin kemarau. Gadis kecil itu selalu menikmati gemerlapnya langit di malam hari. Bintang-bintang yang bertaburan dan berkelap-kelip tak jemu-jemunya ia pandang setiap malam. Sebuah pemandangan yang tidak didapatinya pada musim penghujan.
Pada bulan purnama, ia menghabiskan malamnya di halaman rumah. Ia menggelar tikar lalu membuat api unggun dengan ranting-ranting dan daun-daun kering. Jika tidak ingin sendirian saja, ia memanggil teman-temannnya untuk bergabung. Kentongan yang menggantung di teras surau (Musholla) dipukulnya sebagai isyarat panggilan untuk teman-temannya. Setelah berkumpul, mereka bermain, bernyanyi dan bercerita tentang kisah-kisah lucu dan kadang cerita horor.
”Kamu tahu, ke mana hilangnya sapi pak Marto?” tanya Nunuk, si pembual ulung. Semua anak menggelengkan kepala. ”Sapi itu dicuri yang mbaurekso (menguasai) gunung Kuniran untuk dijadikan tumbal (tebusan). Kalian tahu, gunung Kuniran ada penunggunya. Yang menunggu adalah raksasa buto ijo (hantu raksasa yang menakutkan dan jahat menurut kepercayaan orang Jawa) Buto ijo makan sapi bahkan juga suka makan anak kecil seperti kita”.
”O... begitu ya?” ucap Trisno sambil menggeserkan tempat duduknya mendekati Rusti, Nunuk dan Tutut. Trisno, walau seorang laki-laki, sangatlah penakut.


”Dengar ya. Aku mendapatkan cerita ini dari Mbak Sri. Dia dapat cerita dari temannya” tutur Nunuk penuh percaya diri. ”Hi... menakutkan. Jangan sampai kita pergi ke gunung Kuniran bisa-bisa kita dimakan buto ijo” kata Tutut sambil melingkarkan tangannya ke pundak Rusti.Demikianlah keempat anak tersebut menghabiskan malamnya hingga salah satu dari orang tua mereka memanggil untuk segera pulang. Jika sudah begitu, mereka baru meninggalkan tempat. Rustilah yang pulang paling akhir. Ia menggulung tikarnya lalu mematikan api unggun dengan memercikkan air di atasnya. Rusti tidak penakut seperti ketiga temannya. Kadang-kadang ia juga diminta untuk mengantarkan Tutut yang sangat penakut sampai di depan rumahnya.
Pada musim kemarau, angin malam sangatlah dingin. Dinginnya sampai menusuk kulit.Angin bertiup sangat kencang. Kadang menimbulkan suara yang aneh. Juga muncul suara menakutkan dari pohon-pohon yang saling bergesekan. Rusti seringkali menyusul tidur di kamar ibu, bapak dan adikknya yang masih bayi. Jika ia tidur di kamarnya sendiri, ia merasa kedinginan. Ia menindih tubuh bapaknya sampai tergeser ke pinggir sehingga ia mempunyai tempat yang hangat di dekat adiknya. Pernah suatu hari tubuh bapaknya sampai terjatuh dari tempat tidur. Untungnya, bapaknynya tidak sadar dari tidurnya sampai pagi.
Pada pagi hari, Rusti dan ketiga temannya bertemu di belik bawah pohon beringin. Mereka tidak langsung mandi. Alasannya, masih banyak orang dewasa yang menggunakan belik itu. Namun alasan yang lebih kuat adalah karena mereka masih merasa kedinginan dan malas untuk segera mandi. Buktinya, walau orang dewasa telah selesai mandi dan mengambil air, mereka masih saja enggan untuk segera mandi.
Trisno masih berselimut sarung kesayangannya. Tutut menggunakan baju pijamanya, Nunuk dan Rusti mengalungkan handuk di pundaknya. Mereka duduk di atas batu besar yang terletak tidak jauh dari belik. Mereka segera mandi jika matahari sudah mulai terbit atau salah satu orang tua dari anak tersebut meneriaki agar segera mandi. Trisno diminta untuk mandi terlebih dahulu. Setelah selesai, Rusti, Tutut dan Nunuk mandi bersama-sama. Pulangnya, Rusti harus membawa pulang timba kecil berisi air. Ia membawakan air ibunya untuk memasak.
Setelah mandi, mereka berganti pakaian lalu makan pagi seadanya. Mereka berangkat ke sekolah bersama-sama menyusuri jalanan berdebu. Sepatu mereka yang baru saja dicuci tidak tampak bersih lagi. Debu menempel pada sepatu sehingga warnanya kecoklatan. Sesekali mereka menepuk-nepuk sepatunya sehingga debu berhamburan dibawa angin.
Anak-anak desa itu selalu ceria, mereka tidak begitu dibebani dengan urusan pelajaran sekolah atau pekerjaan rumah. Bagi mereka, dunianya adalah bermain dan bertualang. Keempat anak tersebut sebenarnya tidaklah lahir pada tahun yang sama. Trisno adalah anak yang paling tua. Ia pernah tinggal kelas pada kelas dua sehingga ia berada di kelas yang sama dengan Rusti, Nunuk dan Tutut. Tutut adalah anak termuda, Ia masuk SD pada usia lima tahun. Oleh karenaya ia menjadi anak yang penakut dan manja. Rusti dan Nunuk lahir pada tahun yang sama.
Mereka berempat menjadi sahabat yang saling melengkapi. Jika ada Tutut yang manja dan penakut, maka ada pula Rusti yang tomboi dan pemberani. Ada Nunuk si pembual dan juga ada Triso yang selalu percaya begitu saja pada ucapan orang.
Pagi itu adalah hari Senin, semua siswa SD Bunga Pinus harus melaksanakan upacara bendera. Anak-anak berbaris dengan rapi, namun anak-anak yang menghadap ke Timur sangatlah gelisah. Matanya terpejam-pejam. Tangnnya seringkali berada di atas mata seperti sedang menghormat. Mereka menghindari tajamnya sorot matahari. Keringat mengalir di dahi dari balik topi merah putihnya. Anak-anak yang berada di barisan belakang berlindung pada teman yang berada di depannya. Mereka menundukkan tubuhnya.
Pada saat acara amanat upacara, pimpinan upacara memberi aba-aba istirahan di tempat. Lalu Bapak kepala sekolah, selaku pemberi amanat meminta siswa untuk diam sejenak. Anak-anak diperkenankan untuk duduk.
”Anak-anakku siswa dan siswi SDN Bunga Pinus yang saya cintai, di pagi yang cerah ini saya mengajak anak-anak untuk menjaga kesehatan. Pada musim kemarau seperti ini, di mana sulit untuk mendapatkan air, biasanya akan timbul berbagai penyakit kulit. Oleh karena itu saya harap anak-anak tetap menjaga kebersihan. Selain itu, ada pengumuman untuk siswa kelas tiga. Mulai minggu depan, Ibu guru kalian, Ibu Katmiati tidak bisa mengajar kalian lagi karena akan purna tugas (pensiun). Sebagai gantinya nanti, kalian akan diajar oleh guru baru dari kota...” tutur bapak kepala sekolah.
Anak-anak kelas tiga, yaitu Rusti dan kawan-kawan saling memandang. Mereka merasa sedih. Selama ini bu Katmi mengajar mereka dengan sabar sekali. Ia tidak pernah memberi pekerjaan rumah kepada siswanya. Ia selalu megajar dengan santai.
Selesai upacara bendera selesai, seperti biasanya anak-anak berbaris di depan kelas terlebih dahulu menjadi dua barisan. Barisan kanan dan barisan kiri. Ketua kelas di kelas tiga adalah Rusti. Ia Memberikan aba-aba dengan tegas. ”Siap grak. Lencang kanan grak. Tegak grak. Jalan ditempat grak. Henti grak.” Begitulah dia memberi aba-aba. Lalu ia memandangi barisannya. Dia memandang barisan di sebelah kanan dan kiri. Lalu memutuskan barisan mana yang boleh masuk terlebih dahulu. Barisan yang boleh masuk adalah barisan yang lebih rapi. ”Barisan kanan, masuk dahulu”. Jika ia berkata demikian, satu per satu siswa di barisan kanan memasuki kelas, lalu disusul siswa pada barisan kiri.
Setelah masuk kelas, mereka duduk di tempat masing-masing. Tidak lama kemudian Ibu Katmiati masuk kelas. Lalu spontan Rusti memimpin teman-temannya berdoa. Setelah berdoa, Ibu guru mengucapkan salam lalu mengabsen siswa satu per satu. Demikianlah rutinitas (kebiasaan) yang setiap pagi dijalani tanpa bosan dan enggan.
Kelas mereka bercat putih. Namun kini warnanya menjadi kekuningan karena telah memudar. Di atas papan tulis terpasang gambar presiden dan wakilnya. Selain itu ada gambar-gambar pahlawan seperti R.A Kartini, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol dan Jendral Sudirman. Wajah-wajah pahlawan itu tidak asing lagi bagi anak-anak. Pada pelajaran sejarah, Ibu Katmi selalu menceritakan kisah kepahlawanan mereka. Selain gambar pahlawan, di dinding dekat meja guru terpasang jadwal mata pelajaran dan jadwal piket harian. Anak-anak harus melaksanakan tugas piket seperti yang telah dijadwalkan. Tugas piket itu adalah menyapu lantai dan menghapus papan tulis.
Ibu Katmiati memang sudah terihat tua. Ada keriput di wajah dan tangannya. Rambutnya tercampur antara hitam dan putih. Giginya ada yang ompong. Jika sudah siang, suaranya menjadi parau walau lantang pada pagi harinya. ”Anak-anak yang saya cintai, hari ini adalah hari terakhir saya mengajar kalian. Ibu akan pensiun. Usia ibu sudah 60 tahun. Sudah waktunya ibu digantikan oleh guru muda. Pesan saya, nikmatilah masa anak-anak kalian. Teruslah bermain, bernyanyi dan bertualang. Karena itulah dunia kalian....” Ucap Ibu Katmi mengawali pelajaran pada waktu itu. Ia memang guru yang sangat peduli degan dunia anak-anak. Karena alasan itu pula ia tidak memberi beban yang sangat berat kepada anak-anak. Ketika ia mengajar, anak-anak selau menikmatinya. Ia menjelaskan dengan sederhana tetapi justru mudah dipahami oleh siswa. Kemampuan itulah yang membuat anak-anak tidak merasa sulit dalam menangkap pelajaran.
”Hari ini saya tidak akan mengajar. Saya hanya akan bercakap-cakap dengan kalian semua” lanjut bu Katmi.
”Hore....” teriak anak satu kelas.
”Ibu akan bertanya tentang hobi dan cita-cita kalian. Anak-anak harus punya masa depan yang cerah. Masa depan yang cerah itu awalnya dari cita-cita yang tinggi. Ayo sekarang katakan apa hobi anak-anak? Lalu saya akan memberitahu apa kira-kita profesi yang sesuai dengan hobi kalian ”
”Hobi saya bercerita, Bu” kata Nunuk si pembual dengan keras.
”Itu hobi yang bagus. Kamu bisa menjadi pendongeng, penyiar atau peceramah kelak”
”Dia pembual, Bu” kata Agus si pembuat onar.
”Benarkah? Berarti pendongeng yang paling cocok untukmu, Nunuk. Karena mendongeng itu tidak harus benar-benar terjadi. Yang diceritakan boleh cerita rekaan”
”Hobi saya melakukan penjelajahan seperti di Pramuka itu, Bu” kata Rusti.
”Bagus. Besuk kamu bisa menjadi....”
”Mandor hutan, Bu” sela Agus lagi.”Ya. Agus benar. Selain itu, kau bisa menjadi penyelamat lingkungan. Beberapa tahun yang lalu ada seorang yang mendapatkan penghargaan Kalpataru dari Bapak Presiden karena berhasil menyelamatkan hutan dengan menanami pohon pinus”
”Kalau saya hobinya menyanyi, Bu” kata Tutut.
”Bagus. Kamu bisa menjai seorang penyanyi kelak. Lalu apa hobi kamu, Agus? Dari tadi kamu hanya mengomentari hobi temanmu”
”Aku ..... Aku.....” Agus tidak bisa menjawab karena dia belum memikirkan hobinya sendiri.
”Tidak punya hobi? Ibu kira kamu cocok untuk menjadi seorang komentator atau penilai”
”Betul....” teriak anak-anak membenarkan saran bu Katmi.
”Kalau kamu Trisno?” tanya bu Katmi melihat Trisno yang sejak awal hanya diam saja.
”Saya bingung, bu. Saya suka mendengarkan cerita teman-teman. Saya juga suka mendengarkan sandiwara radio. Saya juga suka mendengarkan lagu-lagu”
”Oh... Hobimu mendengarkan?”
”Dia bisa jadi dukun ya bu?” tanya Tutut
”Jangan menjadi dukun. Jadi saja penasihat spiritual atau paranormal. Menjadi pengacara juga bisa” tambah Agus si komentator.
Percakapan mereka sangat seru. Tidak lama kemudian bel istirahat berbunyi. Mereka beristirahat. Ada yang bermain di luar kelas, ada yang pergi ke warung Bu Siti, ada pula yang bergerombol di dalam kelas. Mereka yang bergerombol itu biasanya mendengarkan bualan Nunuk dengan cerita-cerita yang diciptakannya. Jika ada isu baru Nunuk selalu menceritakan kepada teman-teman. Anehnya, semua anak selalu senang mendengar ceritanya walau mereka tahu ceritanya itu kadang hanya dibuat-buat. Nunuk seperti mempunyai kekuatan untuk menarik perhatian teman-temannya.
Keterampilan Nunuk bercerita membuatnya memiliki banyak teman. Kerena, selain suka membual dia juga suka membicarakan kejelekan teman yang tidak sependapat dengannya. Topik yang sedang hangat dibahas pada waktu itu adalah tentang hilangnya sapi pak Marto.
Rusti dan Tutut tidak mau bergabung dengan gerombolan itu. Mereka selalu mendapatkan informasi terbaru karena rumahnya paling dekat dengan Nunuk sehingga semua informasi pasti sampai di telinga mereka paling awal. Trisno tidak bosan-bosannya mendengar cerita Nunuk walau berpuluh-puluh kali telah didengarnya. Ia benar-benar pendengar setia.
***







GURU BARU

Seorang lelaki memasuki ruang kelas tiga. Laki-laki itu masih muda. Bajunya sangat rapi. Rambutnya disisir dengan rapi pula. Begitu memasuki kelas, aroma harum tercium dari tubuhnya. Ia tampak segar dan gagah.Ia tersenyum dengan ramah memandangi para siswa. Senyum ramahnya membuat hati siswa menjadi berbunga-bunga.
“Selamat pagi, anak-anak?” ucap lelaki itu dengan suara yang merdu.
“Selamat pagi....” jawab anak-anak.
“Perkenalkan. Saya adalah guru baru kalian”
“O..... guru baru? Namanya siapa?” selidik Nunuk agar tidak ketinggalan info terbaru.
“Nama saya SIDIK PRAMONO” ucap pak guru sambil menuliskan namanya di papan tulis. “Panggil saja Pak Sidik.”
“Ya, Pak Sidik...” Anak –anak langsung mempraktikan.
Guru baru dan siswa-siswi kelas tiga itu lalu saling berkenalan. Pertemuan pertama mereka sangat mengesankan. Mereka langsung akrab seperti sudah pernah kenal sebelumnya. Anak-anak menganggap Pak Sidik tidak hanya sebagai seorang guru tetapi juga seorang kakak dan sahabat.
***
Kehadiran pak Sidik di SDN Bunga Pinus memberi warna yang berbeda. Semula, anak-anak tidak pernah senam pagi sebelum pelajaran dimulai. Pak Sidik mengajari senam Kesegaran Jasmani yang diiringi dengan musik. Hal itu membuat anak-anak gembira. Mereka menirukan setiap gerakan yang dicontohkan Pak Sidik. Dalam waktu satu minggu mereka sudah hafal gerakan senam. Tidak hanya itu, pada sore hari anak-anak yang berminat diajak latihan baris berbaris, pramuka dan juga berbagai jenis olah raga. Sekolah menjadi ramai sepanjang hari. Anak-anak menjadi termotivasi untuk selalu pergi ke sekolah. Mereka bisa menemukan pengalaman dan hal-hal baru.
Suatu hari Pak Sidik bertanya pada anak-anak didiknya.
“Apakah kalian merasa nyaman berada di kelas ini?”
“Senang Pak, tetapi kadang-kadang sedih juga karena kelasnya berdebu. Saya suka bersin-bersin jika terkena debu” ucap Tutut dengan manja.
“Huh dasar anak manja” olok Agus.
“Baiklah. Kalau bagitu bagaimana kalau kita besuk membersihkan kelas kita. Kebetulan besuk hari Minggu. Kita akan membuat kelas ini menjadi kelas yang indah dan nyaman, bagaiman?”
“Setuju....”
“Besuk bawalah peralatan untuk membersihkan kelas ini. Ada yang membawa ember, lap, kuas cat, sapu, kemucing dan peralatan lain yang kalian punya”
“Baik, Pak....”
Keesokan harinya anak-anak bersemangat pergi ke sekolah. Pak Sidik datang paling awal. Lalu Rusti dan ketiga sahabatnya datang menyusul karena rumah mereka paling dekat dengan sekolah. Tidak lama kemudian anak-anak lain datang satu per satu. Setelah lengkap mulailah pak Sidik memberi pengarahan.
“Selamat pagi semua!”
“Pagi, Pak....”
“Sudah mandi? “
“Belum, pak. Beliknya masih digunakan orang dewasa untuk mencuci” ucap Rusti.
“Ya, pak. Karena sekarang mahal air, hari minggu bonus tidak mandi” kata Nunuk.
“Ya saya tahu. Kalian belum mandi itu lebih baik karena kita akan terkena kotoran dan debu. Setelah selesai bersih-bersih baru kita mandi. Mari kita awali saja kegiatan kita dengan bacaan Basmallah. Semoga semua bisa lancar”
“Bismillahhirrahmannirrahim”
“Pertama mari kita pindahkan meja dan kursi ini keluar. Satu meja dianggat oleh empat anak. Satu kursi dianggap oleh dua anak. Cari pasangan masing-masing”
Dengan penuh semangat anak-anak memindahkan meja dan kursi keluar kelas. Suara mereka ramai sekali.
“Bagus anak-anak. Kaian bisa melakukan tugas dengan baik. Sekarang kita bagi tugas. Siswa yang membawa ember, menggambil air di belik. Siswa yang membawa kuas, mengecat dinding. Nanti saya ajari cara mengecat yang benar. Siswa yang membawa kemuceng, membersihkan jendela. Siswa yang membawa sapu, menyapu lantai. Siswa yang membawa kain pel, menanti temannya yang sedang mengambil air, lalu mengepel lantai. Kerjakan tugas masing-masing dengan baik. Ada yang ditanyakan?”
“Pak, saya membawa sabit. Karena setelah kerja bakti saya akan merumput. Apa yang bisa saya kerjakan?” tanya Trisno ketakutan.
“Kebetulan sekali ada yang membawa sabit. Ambillah pelepah pisang. Nanti bisa digunakan untuk membersihkan lantai”
Lalu anak-anak menjalankan tugas masing-masing dengan baik. Kebetulan Pak Kebon muncul saat itu sehingga bisa membantu mengecat dinding bagian atas.Beberapa jam kemudian ruang kelas tiga menjadi bersih dan tampak baru. Warna dinding yang semula kekuningan, kini dicat dengan warna biru muda yang cerah. Lantai berdebu telah berganti menjadi lantai yang bersih. Kaca-kaca jendela menjadi mengkilap dan bersih.
Kerja bakti selesai ketika matahari tepat di atas kepala. Sebelum pulang, Pak Sidik memberikan pengarahan kepada siswa.
“Saya mengucapkan terimakasih kepada kalian semua. Kalian sudah bekerja dengan hebat. Luar biasa. Kelas kita telah bersih sekarang. Namun, kerja kita belum selesai. Kita harus menjaga agar kelas ini selalu bersih. Untuk itu, mulai besuk kita sepakat untuk melepas sepatu ketika akan masuk kelas. Besuk kita akan membuat tempat sepatu dari pohon bambu. Oh ya. Masih ada satu hal lagi. Selain, menciptakan kelas yang bersih, kita juga akan menciptakan kelas yang indah. Kita bisa menempatkan vas bunga di atas meja guru. Untuk itu, pada mata pelajaran keterampilan nanti akan saya ajarkan keterampilan membuat bunga dari bahan-bahan yang bisa ditemukan di sekitar kita. Sekarang, karena hari sudah siang. Kalian boleh pulang. Sampai jumpa besuk pagi”
“Sampai jumpa, Pak...” jawab anak-anak serempak.
***
Pada bulan September, persediaan air semakin menipis. Udara sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari. Tanah kering berdebu dan terbang di bawa angin ke dedaunan dan rumah-rumah. Kulit manusia mengering dan telapak kaki menjadi pecah-pecah. Hal seperti itu juga terjadi pada kulit anak-anak SDN Bunga Pinus. Pak Sidik yang sangat perhatian itu sangat prihatin dengan keadaan tersebut. Ia tidak tega menyaksikan kulit siswa-siswinya bersisik, kotor dan dekil.
Suatu hari pak Sidik meminta anak-anak untuk membawa beberapa bahan seperti parutan kelapa, sabun mandi dan minyak kelapa. Semula anak-anak tidak mengerti untuk apa bahan-bahan itu. Namun anak-anak tidak pernah membantah ucapan pak Sidik karena mereka dipastikan akan mendapakan hal-hal yang baru.
Ternyata benar, anak-anak diberi penjelasan tentang kulit manusia.
“Kulit manusia sama seperti tumbuhan. Kulit juga membutuhkan makanan. Jika tidak, kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Apalagi, pada musim kemarau seperti sekarang ini, dimana angin berhembus dengan kencang sehingga kulit menjadi kering. Selain itu, banyaknya debu yang menempel pada kulit juga menyebabkan kulit menjadi kotor. Oleh karena itu kulit kalian semua menjadi kering dan bersisik”
Anak-anak lalu melihat kulit masing-masing. Mereka malu melihatnya. Ada yang melingkarkan kakinya, ada yang menarik kaos kakinya dan ada pula yang menunduk.
“Kali ini saya akan mengajarkan pada kalian bagaimana cara merawat kulit. Sebenarnya ada cream khusus untuk kulit seperti hand body ini” kata pak Sidik sambil menunjukkan sebuah hand body kepada anak-anak.
“Oh kalau seperti itu kakakku juga punya pak” ucap Nunuk dengan bangga.
“Bagus. Itu bisa kau pakai setiap pagi. Jika tidak punya, bahan-bahan seperti yang telah engkau bawa yaitu minyak kelapa, kelapa yang sudah diparut dan sabun mandi bisa dipakai. Jika kalian membawa minyak kelapa, ambil minya secukupnya lalu oleskan pada lengan tangan dan kaki. Jika kalian membawa parutan kelapa, gosokkan pada kaki dan tangan, lalu bersihkan sisanya. Jika membawa sabun mandi, begini caranya. Basahi sabun dengan air, lalu gossokkan pada kaki dan kulit. Jangan dibilas dengan air. Nanti akan mengering sendiri. Di dalam sabun ada pelembabnya sehingga kaki kalian tidak akan bersisik”
“Wah.... Betul sekali, Pak. Kaki saya menjadi bersih” kata Rusti yang telah mengoleskan minyak kelapa ke kaki dan tangannya.
“Kaki saya jadi mengkilat!” ucap Trisno kegirangan setelah mengoleskan parutan kelapa ke kaki dan tangannya.
“Wow... harum....” ucap Nunuk sambil mencium tangannya karena ia mengoleskan sabun pada kaki dan tanggannya.
“Kalian sudah tahu bagaimana cara merawat kulit. Lakukan itu setiap hari sebelum sekolah”
“Ya Bapak.....”
***






KE GUNUNG KUNIRAN

Rusti memandang Gunung Kuniran dengan seksama. Dilihatnya Gunung itu tampak menghijau. Ia ingin sekali bisa pergi ke gunung itu. Bukan karena ingin bertemu dengan buto ijo seperti yang diceritakan Nunuk. Namun ia ingin melakukan penjelajahan. Siapa tahu ia bisa menemukan hal yang baru di tempat itu.
Ia menyampaikan keinginannya itu kepada pak Sidik. Ternyata pak Sisik juga memiliki jiwa petualang sehingga juga memiliki keinginan untuk pergi ke gunung Kuniran. Pak Sidik mengajak Rusti ke rumah pak Karto. Ia ingin memperoleh beberapa keterangan tentang gunung Kuniran.
“Jika kita berangkat subuh, kita bisa sampai di sana kira-kira jam sembilan pagi. Tidak ada jalan khusus untuk pergi ke sana karena yang ada hanya hutan. Namun saya sarankan ikuti saja selokan bekas tempat mengalirnya air pada musim penghujan. Jika Kamu turuti itu, kamu akan sampai di puncaknya. Gunung itu tampak hijau, pohon-pohon lebat dan jalannya terjal berbatu” tutur pak Karto ketika ditanya tentang jalan ke gunung Kuniran.
“Lalu di bagian mana sapi Bapak hilang?” tanya Rusti penasaran.
“Saya tidak tahu dengan pasti. Hanya saja, tampaknya tali pengikat sapi lepas sehingga sapi bisa berjalan kesana-kemari.”
“Jadi tidak benar kata orang-orang kalau sapi Bapak dimakan buto ijo?” tanya Rusti lagi.
“Buto ijo? Saya tidak tahu akan hal itu. Saya setuju sekali jika Pak Guru pergi ke sana. Siapa tahu bisa menemukan sapi saya yang hilang. Namun hati-hatilah. Bawa bekal yang cukup karena tidak ada air di sana.”
“Apakah ada cerita atau semacam mitos (kepercayaan) yang diyakini masyarakat di desa ini tentang gunung Kuniran? Kenapa banyak orang takut pergi kesana?” tanya pak Sidik penuh selidik.
“Ya. Katanya dahulu gunung itu adalah rumah buto ijo. Buto itu suka makan hewan ternak dan juga anak manusia. Itu katanya, namun saya tidak percaya. Maka saya memberanikan diri untuk merumput dan menggembala di sana. Namun tampaknya saya lagi sial. Lembu saya hilang sehingga orang-orang semakin yakin akan mitos kepercayaan itu.”
“Kenapa Bapak tidak percaya? Padahal hampir semua orang percaya akan mitos itu” tanya pak Sidik.
“Di zaman sekarang ini orang harus rasional (berpikir yang masuk akal), Pak Guru. Saya tidak lagi memikirkan mitos atau apa. Yang saya pikirkan adalah nasib hewan ternak saya. Mereka butuh makan, sementara sulit sekali untuk mendapatkan makanan ternak. Salah satu tempat yang menyediakan pakan ternak ya di gunung Kuniran itu” tutur pak Marto membuat pak Sidik tercengang. Suatu pemikiran yang modern. Rusti dan pak Sidik merasa lega mendapatkan petunjuk dari pak Marto. Mereka semakin mantap untuk pergi ke gunung Kuniran.
Pada keesokan harinya pak Sidik menceritakan rencananya kepada anak-anak kelas tiga. Mereka merespon(menanggapi) dengan berbagai pendapat.
“Ke Gunung Kuniran? Yang benar saja? Apa kita mau jadi makanan buto ijo? Amit-amit” ucap Nunuk mengawali komentar.
“Jalan kaki ke gunung Kuniran? Mana aku kuat?” sela Tutut.
“Kita kesana mau menangkap buto ijo ya, Pak” ucap Agus.
“ “Aku takut, Pak. Mendengar ceritanya saja sudah takut, apalagi pergi ke sana” kata Tutut.
“Ya. Pak” lanjut Trisno.
“Dengar, teman. Apa yang kalian pikirkan itu tidak benar. Tidak ada buto ijo disana. Pak Marto sendiri yang mengatakan demikian. Sapinya memang hilang namun bukan karena dimakan buto ijo. Sapinya hilang karena talinya lepas. Bisa jadi sapi itu masih berada di sekitar gunung Kuniran” tutur Rusti dengan lantang.
“Bagaimana kamu tahu?” sela Nunuk.
“Kemarin saya menemui pak Marto di rumahnya”
“Ya. Rusti benar. Sebaiknya kita membuktikannya sendiri sekalian kita melakukan penjelajahan alam. Gunung Kuniran adalah bagian dari desa kita. Masa kita tidak pernah mengunjunginya karena cerita orang yang belum tentu benar. Siapa tahu kita bisa menemukan hal-hal baru di tempat itu. Bagaimana?”
Anak-anak masih ragu-ragu. Mereka menanti pendapat Nunuk. Jika Nunuk berkata setuju, maka semua siswa pasti akan setuju pula. Mereka memandang Nunuk, menanti jawaban darinya.
“Kita akan melakukan jejak petualang, kawan. Pasti menarik sekali” bujuk Rusti.
“Baiklah. Aku setuju” ucap Nunuk mantap.
“Bagaimana yang lain?” tanya pak Sidik.
“Se...setuju......” jawab siswa serempak. Mendengar jawaban itu Rusti sangat gembira.
“Baiklah. Besuk hari Minggu kita ke sana. Kita berangkat pagi sekali setelah Subuh. Kita berkumpul di sekolah. Bawa perlengkapan seperti bahan makanan, minuman dan jangan lupa memakai jaket karena udara pagi masih sangat dingin”
“Pakai seragam, Pak” tanya Trisno.
“Pakai seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topinya” jawab Agus mengejek.
“Tidak perlu, Trisno. Pakai baju bebas yang nyaman seperti celana dan kaos.”
“Membawa buku apa tidak, Pak?” tanya Trisno lagi.
“Ya, membawa alat tulis yang lengkap, sekalian bawa penggaris, penghapus, jangka dan busur” jawab Agus dengan ketus.
“Ya. Kalian membawa sebuah buku catatan dan pensil. Mungkin ada yang perlu ditulis disana. Ada pertanyaan lain? Mendengar jawaban itu Agus langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia tampak malu dengan ucapannya.
“Pakai sandal atau sepatu, Pak?” tanya Tutut.
“Sebaiknya pakai sepatu agar kaki kita tidak terluka karena jalan menuju ke sana terjal dan berbatu. O ya, jika ada diantara kalian yang mempunyai baterai, bawalah karena kita berangkat di pagi buta” kata pak Sidik.
***
Rusti mengatakan rencananya kepada ibu dan bapaknya. Semula kedua orangtuanya melarang, namun karena Rusti pergi bersama gurunya akhirnya mereka memberi izin. Ibu Rusti menyiapkan bekal makanan dan minuman yang akan dibawa ke gunung Kuniran. Makanan itu dimasukkan ke dalam sebuah tempat nasi yang dahulu sering dibawa Rusti ke sekolah sewaktu TK. Demikian juga dengan minumannya. Semua perbekalan itu dimasukkan ke dalam rangsel. Ia juga memasukkan lampu baterai, korek api dan makanan ringan.
Setelah melakukan shalat Subuh, Rusti bergegas ke sekolah. Tidak lupa ia meminta doa restu kepada bapak dan ibunya. Udara pagi itu masih sangat dingin. Suara ayam jantan terdengar bersautan. Langit tampak cerah sekali. Bintang bertaburan di langit yang biru. Dalam perjalanannya ke sekolah, ia bertemu dengan Tutut yang diantar oleh bapaknya.
“Rus, nanti aku berjalannya sama kamu saja, ya. Aku takut” kata Tutut sambil berlari mendekati Rusti.
“Ya. Tidak usah takut, teman kita kan banyak. Buang jauh-jauh rasa takutmu itu”
“Benar Rusti. Anak desa kok penakut” sambung bapak Tutut.
Setiba di sekolah beberapa anak sudah datang. Anak-anak yang rumahnya jauh diantarkan oleh bapak mereka. Anak-anak duduk bergerombol di teras kantor guru sambil menanti semua anak berkumpul.
Beberapa saat kemudian semua anak sudah datang. Pak Sidik memanggil siswanya satu per satu. Setelah itu ia memberikan beberapa pesan kepada siswa.
“Anak-anak yang berbahagia. Hari ini kita akan mengadakan penjelajahan alam agar kita lebih kenal dan lebih dekat dengan alam di sekitar kita. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan selama kita melakukan perjalanan nanti yaitu tidak boleh membuang sampah sembarangan terutama sampah dari bahan plastik karena akan mengotori alam. Lalu tidak boleh merusak tanaman yang ada di hutan. Lalu kalian harus senantiasa berjalan bersama-sama, tidak boleh mendahului karena bisa jadi tersesat.” Demikian pesan Pak Sidik sebelum berangkat ke gunung Kuiran. Setelah berdoa bersama berangkatlah rombongan itu dengan perasaan gembira.

***







PERJALANAN YANG INDAH

Hari masih gelap ketika anak-anak kelas tiga SD Bunga Pinus berangkat ke Gunung Kuniran. Anak-anak menyusuri jalanan dengan wajah ceria. Dinginnya udara yang menusuk kulit tidak dihiraukannya. Langkahnya sangat mantap dan pasti. Sesekali Agus membuat lelucon sehingga suasana meriah sekali.
Ketika matahari mulai mengumpulkan sinarnya di ufuk timur, udara menjadi hangat. Tampak pemandangan yang sangat indah. Burung-burung berkicau di pohon-pohon seakan memberi salam kepada anak-anak yang sedang berjalan menuju Gunung Kuniran. Pemandangan seperti itu sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi mereka, namun kebersamaan itulah yang membuat segalanya sangat mengesankan.
“Anak-anak masih semangat?” tanya pak Sidik memastikan keadaan siswanya.
“Semangat, Pak...” jawab mereka serempak.
“Kita akan sampai puncak gunung sekitar pukul sembilan. Lalu kita makan pagi di sana”
“Hore....”
Rusti berjalan bersama Trisno, Nunuk dan Tutut paling depan. Sedangkan pak Sidik berjalan paling belakang.
Semakin lama panas matahari semakin terasa membakar kulit. Mereka telah melewati perkampungan, sawah dan ladang. Kini mereka mulai memasuki hutan.
“Mari kita menyanyi bersama untuk menghilankan rasa lelah” ajak Rusti sambil membalikkan tubuhnya.
“Naik naik ke puncak gunung tinggi tinggi sekali. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara. Kiri kanan kulihat saja banyak pohon cemara.....” dendang anak-anak dengan riang.
“Bukan pohon cemara, kawan. Yang benar pohon pinus” protes Agus.
“Kalau begitu kita ganti pohon cemara dengan pohon pinus” ajak Rusti.
Lalu anak-anak secara serentak bernyanyi lagi. Tutut tidak bisa berjalan cepat sehingga kini ia berada di bagian belakang bersama pak Sidik. Ia sudah kelelahan. Padahal jalan semakin sulit. Jalannya terjal berbatu dan menanjak lagi.
“Ayo, Tutut. Kejarlah aku..” teriak Nunuk yang telah berada di bukit. Nunuk yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat bicara. “Hai Gus, kejarlah saya jika kamu memang laki-laki. Trisno saja bisa berjalan cepat, masa kamu kalah dengan dia” tantang Nunuk pada Agus.
“Tunggu saja, Nunuk. Bukan Agus kalau tidak bisa mendahuluimu” jawab Agus lantang. Lalu Agus berlari melewati beberapa teman di depannya. Dia tidak menghiraukan walau keringat mengalir di dahinya. Rasa gengsi mengalahkan rasa lelahnya. Dengan napas tersenggal-senggal akhirnya ia bisa juga mengejar Nunuk.
Kini yang berada paling depan adalah Rusti, Nunuk, Trisno dan Agus. Mereka berjalan dengan cepat tanpa menghiraukan teman-teman di belakangnya. Semakin lama mereka semakin jauh dari teman-teman dibelakangnya. Rusti sangat yakin ia tidak akan tersesat karena ia selalu melewati selokan bekas mengalirnya air pada musim penghujan.
Sementara pada kelompok Pak Sidik, Tutut dan anak-anak lainnya berjalan dengan cukup pelan. Beberapa anak megeluh kelaparan dan kelelahan. Lalu pak Sidik memutuskan untuk beristirahat sambil makan pagi. Ia berlari ke barisan paling depan.
“Anak-anak, kita berhenti dahulu. Kita beristirahat di bawah pohon itu sambil makan pagi. Tetapi jangan dihabiskan makanan kalian sisakan untuk makan siang juga” ucap pak Sidik. Lalu anak-anak membuka bekal mereka. Mereka makan dengan lahap sekali. Tiba-tiba seorang siswa berteriak.
“Pak Sidik... Rusti, Nunuk, Trisno dan Agus tidak ada. Mereka berjalan cepat sekali” ucap Hadi dengan keras. Mendengar kata itu, anak-anak tampak kaget. Mereka sejenak berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya.
“Kalau begitu kita segera saja menyelesaikan makan pagi. Lalu kita menyusul mereka” ajak pak Sidik.
***
Rusti menghentikan langkahnya.
“Capek, kawan?” ucap Agus mengejek.
“Bukannya capek, tetapi tidakkah kamu sadar, kita sudah berada sangat jauh dari rombongan. Sejak tadi saya memandang ke belakang namun, tidak juga saya melihat rombongan itu. Kita harus berhenti dahulu. Lagian perutku sudah keroncongan minta diisi” tutur Rusti.
“Ya, aku juga lapar” lanjut Trisno menyetujui perkataan Rusti.
“Baiklah, teman. Mari kita mencari tempat yang nyaman dan teduh. Lalu menyantap bekal kita” usul Nunuk.
Keempat anak itu lalu menuju sebuah batu besar di bawah pohon besar. Sorot matahari yang tajam terhalang oleh rimbunnya daun-daun. Angin gunung berhembus menerpa wajah mereka yang merah padam. Lalu mereka membuka bekal makan pagi dan memakannya dengan lahap.
“Oh.. betapa nikmat masakan ibu saya” ucap Nunuk.
“Masakan ibuku juga nikmat.... dan mantap. Nasi dengan oseng-oseng buncis dan lauknya tenpe goreng” balas Agus.
“Ah... makanan seperti itu saja nikmat!..... Enakkan masakan ibuku. Sambal goreng kentang dan lauknya telur mata sapi” sahut Nunuk. “Apa menumu, Trisno?” lanjutnya.
“Ayam goreng, sambal dan lalapan” jawab Trisno singkat.
“Enak juga makan pagimu, Tris. Tetapi rasanya makananku juga sangat enak. Padahal hanya lauk tempe saja” kata Agus.
“Begitulah, ketika kita sedang lapar, makanan apa saja akan terasa enak dan nikmat. Namun jangan dihabiskan. Ingat, sisakan untuk makan siang” saran Rusti. Mereka menyelesaikan makan pagi lalu beristirahat lagi.
“Bagaimana ini? Kita sudah cukup lama beristirahat di sini, tetapi rombongan pak Sidik kok belum juga muncul. ..” ucap Rusti.
“Jangan-jangan kita tersesat” potong Nunuk.
“Bagaimana kalau kita lanjutkan saja perjalanan ini. Kita menunggu mereka di puncak gunung Kuniran. Mereka pasti menuju ke sana. Kalau kita menunggu disini, belum pasti mereka akan melewati jalan ini” usul Rusti.
“Ya. Aku setuju” jawab Agus. Mereka beranjak dari bawah pohon yang rindang itu.
“Ternyata benar ya Rus, hutan ini tidak menyeramkan seperti yang diceritakan orang-orang” ucap Nunuk.
“Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau ada buto ijo di hutan ini? Makanannya anak kecil lagi” olok Agus.
“Aku kan dikasih tahu kakakku. Lalu kakakku dikasihtahu temannya” protes Nunuk.
“Makanya kalau tidak tahu sendiri jangan membual” kata Agus.
“Sudahlah. Jangan bertengkar saja. Kini kita sudah membuktikan sendiri kalau tidak ada buto ijo di gunung Kuniran” Kata Rusti.
Semakin ke atas, angin berhembus semakin kencang. Matahari semakin meninggi saja. Kulit mereka terbakar matahari sampai merah padam. Keringat membasahi tubuh mereka. Rusti melepas jaket lalu mengikat lengan jaket itu di perutnya. Trisno yang hanya diam saja menggunakan jaketnya untuk tutup kepala.
Mereka terus melangkah mendaki puncak gunung Kuniran. Panas matahari tidak mempengaruhi semangat keempat anak itu. Semakin ke puncak, mereka semakin merasakan kepuasan dan kegembiraan yang luar biasa.
“Sebentar lagi kita akan sampai ke puncak gunung, kawan. Menatakjupkan. Lihatlah gunung yang ada di sana itu, warnanya biru dan ada awan putih di antara gunung-gunung itu. Indah sekali” ucap Nunuk.
“Lihatlah di sana, Nunuk. Itu pemancar TVRI. Jelas sekali dari sini” sahut Trisno.
“Aku heran, mengapa ya aku jadi kagum sekali melihat pemandangan seperti itu? Bukankah kita seringkali melihat gunung?” ucap Agus.
“Itu karena kita puas setelah bersusah payah mendaki gunung” ucap Rusti, “rasa capek kita juga hilang begitu kita sampai di puncak gunung” lanjutnya.
“Hore.... Kita berada di puncak gunung. Tiada lagi tempat yang lebih tinggi dari tempat ini...” teriak Nunuk.
Anak-anak itu akhirnya tiba di puncak gunung. Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Mereka dikejutkan oleh pemandangan yang sangat aneh. Ada baju gombal (baju yang sudah usang dan lama) dijemur di atas batu besar. Mereka tercengang. Trisno menggandeng tangan Agus. Nunuk merapatkan tubuhnya ke ke tubuh Rusti.
“Kamu melihat sesuatu?” tanya Agus memastikan apakah teman-temannya juga melihat apa yang dilihatnya.
“Ya. Aku melihat gombal dijemur di atas batu itu” jawab Nunuk. “Di sini kan tidak ada penghuninya, lalu gombal itu milik siapa...? Jangan-jangan milik Wewe Gombel” kata Nunuk.
“Mari kita dekati saja. Kita pastikan gombal itu bisa dipegang atau tidak” usul Rusti.
“Tidak mau! Kalian belum pernah mendengar cerita tentang wewe gombel ya? Wewe gombel itu seperti manusia tetapi bukan manusia. Sebangsa makhluk halus. Ia juga mencuci pakaian seperti manusia.....” tutur Nunuk.
“Sudah-sudah jangan dilanjutkan ceritanya. Ceritamu membuat hatiku ciut. Padahal, sebelum aku mendengar ceritamu aku tidak merasa takut sama sekali. Aku agak takut begitu mendengar ceritamu” omel Rusti.
“Bagaimana kita sekarang? Kita lanjutkan atau tidak perjalanan ini?” tanya Agus.
Keempat anak itu saling bergandengan tangan. Mereka seakan tidak mau melepaskan tangan mereka. Pandangan matanya menghindari gombal yang dijemur di atas batu.
“Hust....! Diam teman. Apakau engkau mendengar sesuatu?” ucap Agus tiba-tiba. Ucapan itu sungguh mengagetkan ketiga temannya.
“Ada apa, Gus? Janganlah membuat saya kaget” bentak Nunuk.
“Diamlah. Dengar dengan seksama” pinta Agus.
Tidak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara nyanyian Burung Kutilang.
“Itu pasti teman-teman kita” kata Trisno.
“ Ya. Benar!” sambung Rusti lega sambil mengambil napas panjang-panjang.
Tidak lama kemudian rombongan datang. Mereka masih terkagum-kagum menyaksikan pemandangan dari puncak gunung. Setelah mereka bertemu, Nunuk menunjukkan gombal yang dijemur di atas batu besar.
“Pak Sidik, lihat itu,” kata Rusti sambil menunjuk gombal yang dijemur di atas batu besar, “itu baju wewe gombel kan, Pak? Mana ada orang yang tinggal di gunung ini? Berarti itu baju wewe gombel” tutur Nunuk.
Anak-anak merasa ketakutan. Mereka mengerumuni Pak Sidik meminta perlindungan.
“Aku takut....” renggek Tutut yang sejak tadi menggandeng tangan pak Sidik.
“Tenang anak-anak, kalian semua duduk di bawah pohon besar itu. Beristirahatlah di sana. Saya akan melihatnya dari dekat. Siapa yang mau ikut dengan saya?” tanya pak sidik.
“Saya ikut, Pak” jawab Rusti.
“Saya juga, Pak” Agus menyambung ucapan Rusti “Kamu juga, Tris?” lanjutnya.
“Saya tidak mau, Gus” jawab Trisno lirih.
“Baiklah ayo kita ke sana” ajak pak Sidik. Lalu Rusti dan Agus mengikuti pak Sidik. Mereka berjalan mendekati batu besar.
Batu besar yang akan mereka tuju, ternyata tidak sedekat kelihatannya. Mereka harus melewati jalanan yang cukup sulit. Untuk menuju batu besar itu harus menuruni tebing terlebih dahulu. Batu itu besar dan tinggi sekali. Karena bingung harus memanjat dari sebelah mana, mereka mengelilingi batu besar tersebut. Langkah mereka terhenti ketika mereka mendengarkan suara gemericik seperti air yang mengalir.
“Kamu dengar itu?” ucap Rusti.
“Ya” kata Agus.
“Tampaknya itu suara aliran air” kata pak Sidik “aneh” lanjutnya.
Mereka lalu melanjutkan mengitari batu besar. Tiba-tiba mereka melihat suatu lorong gelap di dalam batu besar itu.
“Apakah itu goa?” tanya Rusti.
“Ya, goa. Itu goa. Benar goa. Apa kalian bawa baterai? Ayo kita lihat” ajak pak Sidik.
“Ini baterainya” kata Rusti sambil menyerahkan baterai kepada pak Sidik “tampaknya sudah ada orang yang kesini. Itu ada bekas semak yang dipangkas” lanjutnya.
Dengan pelan-pelan mereka melangkah mendekati goa itu. Pak Sidik menyorotkan lampu baterai ke dalam goa.
“Tampaknya ini goa besar. Kita bisa masuk” ucap pak Sidik lirih.
“Wah gelap sekali goanya” kata Agus setelah melangkahkan kakinya ke dalam goa.
“Sorotkan lampu baterainya ke sana. Itu ada suara gemericik air” kata Rusti, “Ya di situ. Lihat! Ada beliknya airnya melimpah dan jernih sekali. Mari kita dekati belik itu” lanjutnya.
“Wow... mentapjubkan! Ada sumber air di dalam goa. Aku akan mencuci muka” kata agus kegirangan.
“Luar biasa! Airnya dingin sekali. Segar. Aku akan meminumnya, bolehkan Pak?” tanya Rusti.
“Ya, bolehlah. Air ini walau belum direbus tidak tercemar. Anak-anak, sumber ini menjawab misteri gombal yang dijemur di atas batu tadi. Berarti seseorang telah menemukan keberadaan sumber ini. Jadi gombal tadi bukannya milik wewe gombel. Kalau begitu, ayo kita segera keluar. Kasihan anak-anak dicekam rasa takut oleh cerita Nunuk” kata Pak Sidik.
“Ya, Pak. Kalau perlu kita ajak mereka ke sini biar mereka tahu keberadaan goa ini” usul Rusti.
Setelah mencuci tangan, kaki, muka dan minum sepuasnya, mereka memutuskan untuk segera keluar. Namun langkah mereka tiba-tiba terhenti ketika sinar lampu baterai mengenai tulang belulang yang berada tidak jauh dari belik itu.
“Ada jerangkong” teriak Agus.
“Bukan. Lihatlah, bukankah itu tanduk sapi?” kata pak Sidik “Adanya tulang dan tanduk ini mengungkap misteri tentang hilangnya sapi pak Marto. Masuk akal sekali. Sapi itu terjerumus ke dalam goa dan tidak bisa keluar lalu mati di goa ini” lanjutnya.
“Hebat...! Berarti kita bisa mengungkap dua misteri sekaligus. Aku sudah tidak sabar untuk menyampaikan hal ini kepada teman-teman agar mereka tidak takut lagi” kata Rusti. Ketiganya lalu keluar dari goa dengan perasaan puas dan lega.
Anak-anak lainnya menanti kedatangan pak Sidik, Rusti dan Trisno dengan ketakutan. Mereka masih saja duduk di tempat masing-masing sambil merapatkan tubuhnya dengan teman lainnya. Mereka terheran-heran ketika melihat wajah ceria dan segar dari ketiga orang yang baru saja datang. Rusti dan Trisno datang dengan senyum-senyun.
“Anak-anak, kami baru saja menemukan jawaban atas gombal itu” kata pak Sidik mengawali berbicara sambil berdiri di depan anak-anak yang sedang duduk ketakutan. Sementara Rusti dan Trisno masih saja berdiri dengan wajah cengengesan saja. “Gombal itu bukan milik Wewe Gombel. Itu adalah milik seseorang yang sengaja dijemur setelah dicuci. Rupanya di dalam batu besar itu ada goanya. Lalu di dalam goa ada sumber airnya. Saya yakin ada orang yang telah menemukan goa itu lalu menggunakannya untuk mencuci. Lalu tentang sapi yang dimakan buto ijo itu sama sekali tidak benar, soalnya di dalam goa itu juga ada tulang-tulang sapi dan tanduknya. Saya yakin itu sapi milik pak Marto yang hilang. Sapi tersebut terjebak di dalam goa lalu tidak bisa keluar karena memang gelap sekali di dalamnya” tutur pak Sidik.
Anak-anak menjadi lega. Hilang sudah rasa takutnya. Mereka melepaskan tangan mereka dari temannya. Beberapa anak mengambil napas dalam-dalam.
“Kalian akan menyesal sekali jika tidak melihat goa itu. Kita bisa minum dan mencuci muka sepuasnya. Airnya dingin, jernih dan segar sekali” kata Agus bangga.
Anak-anak menjadi penasaran untuk melihat goa. Rusti dan Agus, walau sudah ke goa itu masih penasaran untuk pergi ke sana lagi.
Setelah puas berada di goa rombongan itu meninggalkan gunung Kuniran dengan perasaan senang. Wajah mereka sangat segar setelah mencuci muka dengan air goa. Tidak tampak rasa lelah pada mereka. Pada saat matahari mulai condong ke barat, mereka tiba di rumah masing-masing dengan selamat. Perjalanan itu adalah perjalanan yang sangat indah dan mengesankan bagi meraka.
***





SELANG PENYALUR AIR
Pada Bulan September desa Tosari banar-benar kering kerontang. Masyarakat semakin kesulitan mendapatkan air untuk keperluan memasak, mencuci dan dan mandi. Akibatnya, banyak orang menderita gatal-gatal.
Berbagai upaya sudah dilakukan untuk mengatasi kekeringan namun usaha tersebut belum membuahkan hasil. Pada musim penghujan, orang-orang menampung air hujan di sebuah tempat penampungan air. Penampungan air tersebut sengaja dibuat oleh warga desa untuk menyimpan air. Walau ukuran penampungan itu cukup besar namun airnya hanya bisa bertahan beberapa minggu saja. Maklumlah air itu digunakan oleh banyak orang.
Selain usaha tersebut, warga juga telah membuat sumur. Kedalaman sumur mencapai 22 meter namun tidak juga ditemukan sumber airnya. Pada kedalaman itu yang dijumpai adalah batu padas sehingga tidak mungkin lagi untuk menggali batu tersebut. Sumur itu baru akan menghasilkan air pada musim penghujan. Begitu musim kemarau tiba sumur tersebut kering lagi.
Ketika musim kemarau datang sumber air hanya bisa didapatkan dari belik. Belik berada di bawah pohon besar. Itulah sumber kehidupan masyarakat. Mereka terbiasa untuk selalu menghemat air untuk mencuci, mandi, minum dan memasak. Untuk mandi, mereka cukup dengan satu ember air saja. Satu gayung untuk membasahi tubuh, lalu menyabunnya dan sisanya untuk membilas.
Untuk keperluan buang air besar, mereka kebanyakan menggunakan kakus, yaitu galian tanah sedalam beberapa meter lalu bagian atasnya ditutup dan hanya memberikan sedikit lobang untuk buang air besar. Dengan menggunakan kakus mereka tidak memerlukan air untuk menyiramnya. Jika kakus telah penuh, biasanya mereka tutup lalu menggali tempat lain sebagai kakus. Begitulah, sebenarnya masyarakat telah berlaku hemat air, namun keadaanlah yang menyebabkan sulitnya mendapatkan air.
***
Setelah sholat Isya’ di musholla Rusti dan kawan-kawan tidak langsung pulang. Seperti biasanya, mereka masih asyik bercakap-cakap membicarakan hal-hal yang menarik. Tampak juga pak RT, pak Sidik dan beberapa warga masih duduk sambil bercakap-cakap. Mereka membahas kekeringan yang melanda desa Tosari.
“Kebetulan sekali, kita bisa berkumpul di sini. Beberapa hari yang lalu saya bersama anak-anak menemukan sebuah sumber air di dalam goa di gunung Kuniran. Airnya jernih dan melimpah. Saya memikirkan bagaimana cara untuk memindahkan air dari sumber itu ke desa kita.” Tutur pak Sidik.
“Saya baru tahu kalau ada goa di gunung Kuniran” lanjut pak RT.
Mendengar percakapan itu, Rusti dan kawan-kawan mendekati pak Sidik. Anak-anak itu ingin terlibat dalam percakapan.
“Ya, Pak RT. Kami yang menemukan goa itu” sahut Trisno.
“Kalau begitu, mari kita pikirkan bagaimana cara mengalirkan air di desa ini. Jarak gunung Kuniran cukup jauh dari sini, kita bisa menggunakan selang atau paralon. Pasti memerlukan biaya yang sangat banyak untuk itu” kata pak RT.
“Bagaimana kalau kita menggunakan uang kas desa, Pak RT?” usul Pak Dirman yang tampaknya penasaran sekali dengan penemuan sumber air di gunung Kuniran.
“Ya, besuk saya akan menghadap pak Lurah. Namun setiap keluarga juga harus dimintai sumbangan seiklasnya” jawab Pak RT.
“Kalau ke gunung Kuniran saya ikut, Pak.” Seloroh Rusti.
“Saya juga, Pak” lanjut Trisno dan Tutut hampir serempak.
“Saya ingin sekali melihat lagi goa dan sumber air di gunung Kuniran.” kata Tutut.
“Baiklah, kalian bisa ikut asal tidak minta gendong” jawab Pak Sidik.
“Saya sangat bangga pada kalian semua, anak-anak. Kalian bersama dengan guru kalian telah berhasil menemukan sumber air yang semoga bisa bermanfaat untuk masyarakat saat ini.” Pak RT memuji beberapa anak SD Bunga Pinus tersebut.
“Saya yakin usaha kita akan berhasil karena pada dasarnya air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Kita bisa mengalirkan air dari sumber itu ke desa kita dengan menggunakan selang atau paralon. Kita bisa memanfaatkan tempat penampungan yang selama ini kita gunakan untuk menampung air hujan, untuk menampung air dari gunung kuniran. Lalu masyarakat bisa mengalirkan air di penampungan tersebut ke rumah-rumah mereka. Selama ini masyarakat hanya memiliki paso (sejenis gerabah dari tanah liat yang berfungsitempat penampungan air). Daya tampungnya sangat terbatas yaitu hanya lima ember besar. Saya memiliki pemikiran untuk mengenalkan kamar mandi kepada masyarakat. Selama ini masyarakat menggunakan belik untuk mandi sehingga mereka tidak mengenal kamar mandi” tutur pak Sidik.
“Ide yang bagus, Pak. Saya juga setuju. Masalahnya sekarang adalah biaya yang akan kita gunakan untuk itu semua” lanjut pak RT.
“Kalau begitu selain uang dari masyarakat dan dari iuran warga, saya akan membuat proposal (pengajuan) kepada Bupati dan dari donatur. Semoga proposal saya bisa diterima” kata pak Sidik.
***
Pak Sidik lalu membuat proposal. Ia menemui Bupati lalu menjelaskan semua rencana yang akan dilaksanakan di desa Tosari. Berkat kemampuannya menyakinkan, Bupati menerima proposal pak Sidik. Dengan demikian ia bisa segera melaksanakan programnya.
Pada suatu minggu, Pak RT, Pak Sidik, Rusti dan teman-teman melakukan program pengairan. Langkah pertama yang dilakukannya adalah memperkirakan jarak antara sumber air di dalam goa dengan tempat penampungan air lalu mempersiapkan selangnya. Mereka memilih jenis selang yang tidak mudah tertekuk karena bisa menghambat air. Selang yang berkualitas harganya agak mahal namun bisa tahan lama dan lebih kuat.
Setelah semua siap mereka berangkat ke gunung Kuniran. Pak Sidik dan Pak RT meminta bantuan warga untuk membawa selang. Rusti, Nunuk, Tutut dan Trisno membawa perbekalan untuk makan siang. Mereka berjalan menelusuri jalan berdebu dengan suka cita. Selang itu lalu di rentangkan mulai dari tempat penampungan air lalu di hubungkan di sepanjang perjalanan ke gunung Kuniran.
Panas metahari tidak mereka hiraukan. Ada sejuta harapan dalam hati mereka. Terbayang di benak Rusti, betapa senang jika orang-orang Tosari bisa menikmati air yang berlimpah.
Sambil berjalan, Rusti dan teman-temannya memastikan agar selang tidak tertekuk. Jika perlu mereka menancapkan bambu diantara selang agar selang tidak bergeser,
Ketika matahari berada tepat di atas kepala, rombongan pengairan itu sudah tiba di dalam goa. Beberapa warga membuat lubang di bagian bawah belik. Lalu lobang itu dimasukki selang. Agar tertancap kuat, mereka memberi semen untuk merekatkan selang.
Setelah semua beres, mereka keluar goa dan beristirahat di bawah pohon yang teduh sambil makan siang.
“Apa airnya sudah mengalir sampai di penampungan ya?” selorah Rusti setelah menelan makanannya.
“Ya belum lah, kita kan baru saja menghubungkan selang dari sumber ke penampungan. Pasti memerlukan waktu yang cukup lama agar airnya sampai di penampungan” sahut Nunuk.
“Apa sumber air bisa berhenti, Pak?” tanya Trisno.
“Bisa saja. Jika pohon-pohon yang ada di gunung ini ditebang sampai gundul, lambat laun sumber air bisa mati. Keberadaan sumber air itu tergantung dari kelestarian hutan. Untuk itu masyarakat harus terus menjaga kelestariannya. Caranya, tidak menebang pohon. Sebaliknya, kita akan terus mengadakan reboisasi (penghijauan kembali) di hutan yang gundul” jelas Pak Sidik.
Percakapan mereka terus berlanjut hingga makan siang selesai. Setelah itu mereka melakukan perjalanan pulang. Di sepanjang perjalanan mereka memastikan agar air di dalam selang bisa mengalir dengan lancar. Mereka berjalan mengikuti selang sampai di tempat penampungan.
Setiba di desa Tosari, mereka langsung disambut oleh warga dengan wajah berbinar-binar.
“Airnya mengalir. Penampungan air kita terisi air....” sorak seorang warga.
“Alhamdulillah...” ucap orang-orang yang baru datang dari gunung Kuniran hampir serempak.
Mengalirnya air dari gunung Kuniran ke penampungan air membuat semua warga desa Tosari bergembira ria. Karena kegembiraan itu anak-anak, remaja dan beberapa warga langsung menggunakannya untuk mandi tanpa melepas pakaian mereka. Para Ibu rumah tangga beramai-ramai mendatangi tempat penampungan sambil membawa timba, jurigen atau jun (tempat ait yang terbuat dari tanah liat digunakan untuk membawa air).
***
Pagi yang cerah. Rusti SD menapakkan kakinya menuju sekolah. Wajah segarnya siap menatap masa depan yang gemilang. Ia dan anak-anak SD Bunga Pinus adalah orang yang kuat menghadapi segala kesulitan dalam keadaan alam yang kurang menguntungkan. Keadaan alam yang gersang dan kering, terjal itulah yang membuat mereka terlatih dalam mengatasi kesulitan.
Rusti terseyum lega karena ia bisa menjadi salah satu anak yang berhasil menemukan air kehidupan. Air yang sangat diharapkan orang-orang pada musim kemarau seperti itu. Ia juga bangga memiliki guru seperti ak Sidik yang kaya akan ide dan pemikiran yang cerdas.
“Hai, Rus!” tegur Nunuk membuyarkan lamunannya. “Kok senyum-senyum sendiri?” lanjutya.
“I...Iya. Aku senang sekali bisa menemukan sumber air yang bisa bermanfaat untuk semua orang”
“Aku juga. Kamu tahu? Tetangga desa juga sudah mengetahui tentang adanya goa di gunung Kuniran. Mereka telah pergi ke sana” tutur Nunuk.
“Dari mana kamu tahu? Tanya Rusti.
“Ada deh. Nunuk pasti tahu semuanya” ucap Nunuk penuh percaya diri.
Tidak lama kemudia Trisno dan Tutut menyusul mereka. Seperti biasa keempat anak itu selalu bercanda tawa sepanjang perjalanan ke sekolah. Kini mereka tampak bersih dari kulit hingga bajunya. Hal itu tentunya berkat adanya sumber air yang mereka temukan. Dan, berkat peranan bapak Sidik tentunya.
Anak-anak itu siap menerima ilmu yang akan mengantarkannya mengetahui dunia luar yang sangat luas tak terbatas. Sehingga mereka tahu dunia di balik gunung-gunung yang mengitari mereka. Semoga.

SELESAI

BUMI REOG

1
PERJALANAN KE BUMI REOG

Malam itu cerah sekali. Secerah hatiku saat itu. Bagaimana tidak? Sekolahku libur dua hari. Satu hari pada hari minggu dan pada hari seninnya tanggal merah. Aku sekeluarga akan pergi ke Ponorogo. Kami akan menghadiri undangan pernikahan saudara ibu. Aku belum pernah pergi ke kota itu. Senang sekali bisa datang ke kota yang dikenal dengan julukan kota reog. Kata guruku, Ponorogo adalah tempat lahirnya kesenian reog
Ibu menyediakan tas besar untuk tempat oleh-oleh dan baju. Aku memasukkan pakaian beberapa potong.
“Sarung, handuk, baju ganti …, apa lagi ya bu?” tanyaku agar aku tidak lupa membawa barang yang aku butuhkan dalam bepergian.
“Jangan lupa membawa jaket!” seru ibu. “Sekarang kamu tidur saja. Besuk pagi-pagi kita harus berangkat”
Aku sudah berusaha untuk tidur, namun mata ini sulit sekali dipejamkan. Entah mengapa jika akan bepergian, aku selalu tidak dapat tidur. Ingin rasanya segera berangkat karena aku penasaran melihat keunikan kota itu.
***
“Bangun…!” teriak ibu. “Cepat mandi! Kita akan segera berangkat”
Aku lekas bangun dan mandi. Setelah makan pagi, minum susu dan minum obat anti mabuk, kami pun berangkat. Rumahku dekat dengan terminal Jayabaya, tempat persinggahan angkot ke berbagai tempat di Surabaya.
Bapak membawa tas besar, ibu menjinjing tas tangan dan aku menyandang rangselku. Di dalamnya ada minuman dan makanan kecil serta dompet berisi uang receh. Uang itu untuk pengamen, pengemis dan orang yang minta dana untuk pembangunan masjid. Walau uang ratusan rupiah, itu akan sangat berarti bagi mereka.
“Memberikan uang walau seratus rupiah, berarti sudah berbuat suatu kebaikan yaitu membantu orang lain yang memerlukan. Satu hal yang penting adalah rasa ikhlas. Jika tidak memiliki rasa ikhlas maka akan sia-sia saja tindakan itu. Bahkan jika memberinya sambil ngomel-ngomel bisa jadi tidak kebaikan yang di dapat tetapi justru kejelekan.” Begitu penjelasan bapak kepadaku.
Lalu kami naik lyn JB warna orange. Angkot tidak berangkat sebelum penuh dengan penumpang. Begitu kami naik lyn, ada seorang anak kecil mengamen. Anak itu kira-kira seusia denganku. Kalau ia sekolah mungkin kelas empat. Dia membawa botol minuman kemasan yang berisi kerikil. Bajunya lusuh dan kotor. Kulitnya hitam dan dekil. Tampak sekali badannya terbakar matahari.
Dia mengocok botol itu. Lalu terdengar suara yang unik. Sebuah lagu ia nyanyikan.
“A a a a …. Ok. Bilang saja OK. Aku mau jawaban. Cukup satu jawaban. Aa….aa…..aa OK,” ucap anak pengamen itu menirukan lagu T2. Setelah itu ia menyodorkan gelas bekas air mineral kepada semua penumpang.
“Terimakasih…… terimakasih,” kata anak itu begitu ada orang memasukkan uang receh ke dalam gelasnya.
Udara di Surabaya sangat panas. Berkali-kali bapak mengusap keringat di wajahnya. Sepagi ini Surabaya sudah macet. Aku harus sabar ketika di atas lyn. Tidak saja udara yang panas tetapi juga kemacetan yang aku hadapi.
Aku memandang hilir mudik kendaraan, lalu lalang orang-orang memalaui jendela angkot. Sungguh padat dan penuh! Kota Surabaya yang luas tampak sempit sekali karena beratus-ratus kendaraan memadati jalan raya. Tampak olehku: bus, truk tronton, kontainer, angkot, kendaraan pribadi, sepeda motor dan pejalan kaki melintas silih berganti.
Setelah kira-kira setengah jam, aku tiba di terminal Bungurasih. Kami turun di tempat penurunan penumpang. Bapak mengangkat tas besar sambil menunjukkan arah. Aku mengikutinya bersama ibu. Kami menuju loket pembelian karcis. Setelah itu kami masuk ke tempat bus yang akan berangkat. Di Tempat tunggu, aku lihat kursi berjajar–jajar. Di atasnya banyak orang duduk. Diantaranya ada yang tidur, ada yang membaca koran, melihat televisi dan ada pula yang termenung.
Seseorang berpakaian seragam merah bata menarik tas bapak dengan paksa. Aku kaget sekali. Bapak pun menarik tasnya. Sesaat orang itu tarik-menarik dengan bapak. Bapak berhasil menarik tasnya.
“Mau ke mana, Pak?” tanya orang itu setelah melepaskan tas bapak. Bapak tidak menjawab. Kami dikerubuni banyak orang. Rupanya orang-orang itu berebut penumpang. Itulah cara mencari penumpang yang mereka dilakukan.
“Saya sudah berjanji dengan seseorang.” Kata bapak. Aku tahu bapak bohong untuk menghindari orang-orang itu.
Kami mendekati bus. Aku melihat berjajar-jajar bus ke segala tujuan. Di atas bus itu terpasang tulisan berisi tujuan bus yang akan dituju. Dari sebelah kiri, aku mambaca: Malang, Ponorogo/Pacitan, Magetan, Trenggalek, Solo/Jokja, Jember, Bali, Banyuwangi dan juga kota-kota di luar pulau Jawa.
Tulisan itu membantu memudahkan orang-orang mencari bus mana yang akan dinaiki. Andai saja tidak ada calo atau orang-orang seperti yang aku temui tadi, pastilah penumpang lebih tenang dan nyaman. Tetapi aturan yang bagus itu dirusak orang demi mendapatkan uang.
Aku berjalan mengikuti bapak mendekati bus Jaya jurusan Ponorogo. Bus itu berwarna putih dan biru. Ada gambar reog Ponorogo menghiasi dinding luar bus. Memang, reog sangat identik dengan Ponorogo dan Ponorogo identik dengan reog. Di bagian belakang tertulis: Bus Patas AC Tarif Biasa.
“Mari, Pak. Patas, AC tarif biasa. Langsung berangkat” ucap seseorang yang memakai seragam sama dengan orang yang merebut tas bapak tadi. Bapak pun menaikkan aku ke dalam bus, disusul ibu. Lalu bapak masuk tanpa membawa tas besar. Rupanya tas itu dititipkan di bagasi.
Ces… Dingin! Udara terasa segar begitu memasuki bus. Aku tidak lagi kepanasan. Kami duduk di kursi dengan tiga tempat duduk. Letaknya nomor tiga dari depan.
“Bismillah,” ucap bapak. Dengan spontan aku pun mengucapkannya. Bus segera melaju. Nyaman rasanya duduk di atas bus AC. Begitu bus berangkat, dua orang lelaki berdiri di depan. Mereka adalah pengamen. Salah satu orang yang berambut gondrong membawa gitar. Sedangkan satu orang lainnya membawa tipung. Orang itu rambutnya pendek dan di cat warna pirang. Celananya compang-camping. Dengan samar-samar dia menyanyikan lagu ST 12. Sesekali ia harus tergoyang ke depan dan ke belakang saat bus direm mendadak.
“Putuskan saja pacarmu. Jangan kau menolak cintaku. Jangan kau hiraukan pacarmu. Putuskan saja pacarmu. Lalu bilang I love you padaku….” Begitu orang itu bernyanyi. Setelah selesai menyanyikan dua lagu, orang berambut panjang pembawa gitar tadi berkata:
“Demikian lagu dari anak jalanan. Terima kasih atas partisipasinya. Bagi yang menyumbang seratus saya doakan selamat, yang menyumbang lima ratus saya doakan kaya raya. Bagi yang menyumbang seribu saya doakan masuk surga. Bagi yang tidak memberi, saya doakan semoga celaka.”
Begitu mendengar ucapan orang itu, kulihat orang yang duduk di bangku sebelahku merogoh sakunya. Pengamen yang berambut panjang itu menyodorkan wadah terbuat dari plastik pada penumpang. Aku memasukkan sekeping uang limaratus ke dalamnya. “Terimakasih,” ucap pengamen itu.
Tidak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki lain membawa sebuah kardus. Orang itu membagi-bagikan suatu barang kepada penumpang. Ternyata barang tersebut adalah sebungkus permen jahe dan permen asam.
“Penyegar mulut, Penyegar mulut. Anti mabuk. Beli dua dapat tiga. Beli satu cukup seribu rupiah.” Begitu kata orang tadi. Setelah selesai membagikan permen tersebut ke seluruh penumpang, ia ke depan lagi.
“Bu, aku boleh mengambil permen ini?” tanyaku.
“Boleh. Tapi harus membayar dulu”
Orang itu lalu mengambil permen yang tidak dibeli dan menerima uang orang yang membelinya. Begitulah cara orang mencari uang. Ia menggunakan kesempatan dan pandai membaca peluang.
Sesaat suasana hening. Ibu dan bapak tertidur. Lalu seorang kenet bus memutar CD berisi lagu-lagu berbahasa Jawa. Lagu itu dinyanyikan oleh Waljinah juga oleh Didi Kempot. Pandanganku kuarahkan keluar jendela. Aku melihat pemandangan di luar bus sambil membaca tulisan-tulisan yang ada di pertokoan atau gapura untuk mengetahui sampai di mana perjalanan saya.
Begitu tiba di Mojokerto, aku mencium bau terasi yang sangat menyengat. Rupanya itu adalah aroma dari suatu pabrik. Tiba-tiba aku mengantuk. Tidak lama kemudian mataku terpejam. Aku pun tertidur.
Duk! Aku terantuk kaca jendela sehingga terbangun dari tidur. Begitu kubuka mataku, ternyata aku sudah sampai di kota Jombang. Bus berhenti di terminal bus. Berduyun-duyun pedagang asongan menaiki bus yang kutumpangi. Ramai sekali. Ada pedagang asongan berjualan aneka dagangan dalan sebuah kotak yang kedua ujung kanan dan kiri diikat dengan seutas tali. Lalu tali itu dikalungkan pada leher. Kotak itu berisi minuman, permen, tisyu, rokok dan makanan ringan. Ada juga yang berjualan tahu Sumedang, berjualan minuman dingin serta berjualan buah yang siap makan.
Hem….. Aku tergiur untuk membeli macam-macam dagangan itu. Tapi ibu hanya memperbolehkan aku membeli buah. Katanya, buah sehat dan tidak beresiko. Sedangkan makanan dan minuman lain belum tentu sehat. Apalagi minuman kemasan botol yang tidak bisa dijamin kebersihan dan keasliannya.
Untuk urusan itu aku menurut pada ibu saja. Dulu aku pernah jajan sembarangan di sekolah. Aku membeli jajan yang dilarang ibu. Akibatnya, aku terkena radang tenggorokan. Badanku panas sekali sehingga tiga hari tidak masuk sekolah.
Pernah juga aku membeli minuman es yang berwarna merah. Menggiurkan sekali tampaknya. Panas-panas sepulang sekolah pastilah segar jika aku meminumnya. Benar juga. Rasanya segar dan nikmat. Rasa panas dan haus seketika hilang. Pada malam harinya, badanku panas lagi. Radang tenggorokanku kumat. Semula aku berbohong pada ibu kalau aku telah membeli es sepulang sekolah. Lama-lama aku mengakui kesalahannku. Sejak itu aku benar-benar kapok. Aku tidak mau sakit lagi karena salah makan dan minum.
Bus terus melaju. Beberapa daerah aku lewati. Kertosono, Nganjuk, Saradan dan Madiun. Setelah lima jam berada di atas bus, akhirnya aku tiba di kabupaten Ponorogo. Begitu masuk di kabupaten Ponorogo, aku melihat sebuah gapura reog. Di atasnya tertulis: Selamat Datang. Kabupaten Ponorogo terletak di sebelah selatan Kota Madiun, dan berada di jalur Madiun-Pacitan. Dari sebelah barat Kabupaten Ponorogo berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.
Udara di Ponorogo tidak sepanas di kota Surabaya. Udara terasa sejuk dan nyaman. Begitu tiba di terminal Selo Aji, kami turun. Bapak menghubungi seseorang dengan HPnya. Tidak lama kemudian, seorang laki-laki datang menemui kami. Kami bersalam-salaman. Ibu memanggil orang itu dengan sebutan Pakdhe Raji. Sedangkan aku memanggilnya Mbah. Kata ibu, putri mbah Raji itulah yang akan menikah.
Kata ibu, putri mbah Raji itu dulunya sudah memiliki calon suami tetapi hubungannya tidak direstui orang tua karena ada mitos yang mengatakan kalau orang Golan tidak bolih menikah dengan orang Mirah. Kini putri mbah Raji akan menikah bukan dengan orang Mirah.
Mbah Raji mengajak kami mendekati sebuah mobil berwarna merah. Di dalam mobil tersebut ada seorang sopir dan seorang anak seusiaku.
“Mas Dion…” ucap ibu sambil mengulurkan tangannya. “Apa kabar Mas? Lama tidak ketemu!”
“Alhamdulillah kabar baik, dik Susi” kata sopir yang ternyata namanya Dion. “He… Jagoannya sudah besar nih. Siapa namanya?” Tanyanya padaku.
“Fahri” jawabku singkat.
“Kenalkan. Ini anak Pakdhe” kata pakdhe Dion.
“Andika” ucap anak semurku tadi.
“Fahri” ucapku sambil bersalaman. “Kelas berapa?” tanyaku.
“Empat”
“Sama”
Kami langsung akrab karena kebetulan kami tinggal di kelas yang sama. Selama di dalam mobil kami bercakap-cakap. Tidak terasa kami sudah sampai di rumah Mbah Raji.
Rumah mbah Raji terletak di Sukorejo kabupaten Ponorogo. Tepatnya berada di sebelah barat kota Ponorogo. Rumah mbah Raji ramai sekali. Banyak orang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan. Di halaman rumah itu terpasang terob. Begitu masuk, ada dua pohon pisang menghiasi pintu masuk. Tampak olehku pelaminan yang sangat indah. Ada air mancur di depan pelaminan itu. Bunga-bunga menghiasi sekelilingnya. Baunya wangi semerbak. Musik diputar begitu kerasnya sehingga ketika berbicara kami harus sedikit berteriak.
***





2
REOG PONOROGO

Ibu membantu mempersiapkan makanan dan snack untuk para tamu. Aku dan bapak pergi ke rumah Andika. Rumah Andika tidak jauh dari rumah Mbah Raji. Aku tidak menyia-siakan kesempatan baik ini. Selagi ada di Ponorogo, aku ingin sekali melihat Reog secara langsung. Pakdhe Dion bersedia mengantarku berkeliling Ponorogo dengan mobilnya.
Aku, bapak dan Andika mengikuti Pakdhe Dion. Kami berputar-putar di kota Ponorogo. Satu hal yang kurasa unik di kota ini adalah adannya bundaran di setiap perempatan jalan. Di bundaran itu berdiri kokoh sebuah patung para pemeran reog dan juga pemegang piala Adipura.
Kata pakdhe, adanya bundaran di setiap perempatan itu digagas oleh bupati Ponorogo Markum Singodimejo. Setiap bupati yang menjabat di Ponorogo memiliki cirikhas sendiri-sendiri. Ada juga bupati yang menyarankan warganya membangun patung reog atau gapura reog di setiap ujung jalan. Saya melihat sendiri bangunan itu di pintu masuk gang atau pintu masuk jalan. Adanya pemandangan itu membuat Ponorogo semakin khas dan unik.
Setelah beberapa lama berputar-putar, kami diajak ke sebuah gedung kesenian. Namanya adalah Padepokan Reog. Di sana ada latihan tari Reog. Menurut pakdhe, latihan itu dilakukan untuk persiapan mengikuti Festival Reog yang dilaksanakan setiap tahun.
Luar biasa! Sekelompok orang memainkan peran masing-masing dengan penuh kesungguhan sehingga latihan itu seperti pementasan yang sesungguhnya. Semua gerakannya sangat indah. Pantaslah kalau Malaysia pernah mengakui Reog tersebut sebagai miliknya. Padahal, Reog Ponorogo merupakan seni tradisional asli Ponorogo. Keberadaannya kini tidak hanya dijumpai di Ponorogo saja. Reog sudah terkenal hingga ke manca Negara.
Aku mengagumi kesenian reog itu. Betapa hebat nenek moyang yang telah menciptakan kesenian itu. Pastilah mereka memiliki nilai seni yang tinggi. Mereka bukan orang biasa-biasa saja. Bagaimana mungkin orang biasa bisa menciptakan kesenian yang terpadu antara musik, gerakan dan perlengkapan yang luar biasa.
Di pedepokan Reog itu, kami duduk di tempat yang memang sengaja diperuntukkan untuk para penonton. Di sebelah bapak, ada seorang yang barpakaian serba hitam, pakaian warok. Rupanya ia adalah pimpinan kelompok reog yang sedang latihan itu. Orang itu bercerita banyak hal tentang Reog.
“Aku heran, mengapa Malaysia mengakui reog Ponorogo? Padahal, saya lihat sendiri upaya pelestarian Reog di Ponorogo sangat luar biasa. Bagaimana ceritanya tentang pengakuan reog itu, Pak?” tanya bapak pada bapak berpakaian warok itu.
“Orang Ponorogo sangat kecewa saat mendengar kabar dari situs internet milik Kementeria Malaysia. Di situ Malaysia mengklaim bahwa tarian Barongan yang mirip dengan kesenian reog Ponorogo tersebut adalah milik Malaysia.
Padahal, Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah mendaftarkan tarian reog Ponorogo sebagai hak cipta milik kabupaten Ponorogo tercatat dengan nomor 026377 tertanggal 11 Februari 2004 dan diketahui langsung oleh menteri hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia” tutur bapak itu dengan geram setelah ditanya bapak tentang pengakuan reog Ponorogo oleh Malaysia.
“Malaysia mengaku kesenian reog adalah miliknya padahal untuk memiliki peralatan tersebut mereka membeli dari ponorogo. Mana mungkin Malaysia memiliki kesenian reog dan tidak mampu membuat peralatannya sendiri?” lanjut orang yang memakai baju warok tadi.
“Bagaimana Bapak tahu kalau Malaysia mendapatkan Reog dari Ponorogo?” Tanya bapak.
”Saya sebagai pemerhati reog sempat melakukan pengecekan ke beberapa perajin reog di Ponorogo dan hasilnya para pengrajin mengaku mendapatkan pesanan dari Malaysia.” Jawab bapak itu sambil menyalakan rokoknya. “Kamu bukan orang Ponorogo?” tanyanya pada Bapak.
“Saya dari Surabaya, Pak. Kebetulan kami berkunjung ke rumah saudara sekalian ingin melihat pertunjukan reog” jawab bapak.
“Apa yang hebat dari pertunjukan reog menurutmu, Nak? Tanyanya padaku.
“Orang yang ada di dalam reog itu, Kek” jawabku.
“O itu. Pembawa barongan itu disebut pembarong. Tugasnya sebagai pemanggul dadak merak”
“Barapa berat reog itu?” tanyaku penasaran melihat seorang pembarong memikul reog sebesar itu.
“Kira-kira 40 sampai 50 kilo”
“Ha…. Kok kuat? Ia kan sambil menari-nari?” tanyaku lagi.
“Pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang yang baik, untuk menahan gigitan beban darak merak, sebentuk kepala harimau dihiasi ratusan helai bulu-bulu burung merak setinggi dua meter selama masa pertunjukan.
Tidak hanya itu, kadang-kadang seorang pembarong juga memangkul manusia di atas kepala harimau bahkan juga memangkul barongan dengan berat yang sama dengan barongan yang telah dipangkulnya. Jadi jika barongan rata-rata seberat 40 kg ditambah satu barongan lagi menjai seberat 80 kg. Belum lagi, dalam adegan reog Ponorogo ada atraksi jungkir balik, Oleh karenanya seorang pembarong harus memiliki kekuatan yang luar biasa”
“Hebat sekali” kataku sambil menggelengkan kepala.
“Apa ada unsur lain yang menguatkan para pembarong?” Tanya bapak.
“Ada. Instrumen pengiringnya, yaitu: kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog. Alunan nadanya penuh dengan nuansa unik, menggairahkan dan penuh semangat. Itu bisa membuat pembarong bersemangat.”
“Apa benar ada yang menggunakan kekuatan supranatural pada pementasan Reog Ponorogo?” Tanya Pakdhe Dion.
“Seorang pembarong pun harus dilengkapi dengan sesuatu yang disebut kalangan pembarong dengan wahyu. Wahyu inilah yang diyakini para pembarong sebagai sesuatu yang amat penting dalam hidup mereka. Tapi… seiring dengan berkembangnya zaman, kini telah banyak lahir pembarong muda, yang telah meninggalkan hal-hal yang berbau mistis. Mereka lebih rasional.
Seorang pembarong, harus tahu persis teori untuk menarikan dadak merak. Bila tidak, gerakan seorang pembarong bisa terhambat dan mengakibatkan cedera. Setiap gerakan semisal mengibaskan barongan ada aturan bagaimana posisi kaki, gerakan leher serta tangannya. Biasanya seorang pembarong tampil pada usia muda dan segar. Menjelang usia 40-an tahun, biasanya kekuatan fisik seorang pembarong, mulai termakan dan perlahan dia akan meninggalkan profesinya.
Saat ini, banyak pembarong tidak menggunakan kekuatan supranatural dalam pementasan. Namun sebenarnya kekuatan gaib adalah elemen spiritual yang menjadi nafas dari kesenian ini. Sama halnya dengan warok, kini pun persepsi pembarong digeser. Lebih banyak dilakukan dengan pendekatan rasional dengan latihan fisik yang teratur dan terarah.” jelasnya panjang lebar.
“Siapa saja tokoh dalam tari reog itu, Kek? tanyaku lagi.
“Satu kelompok Reog terdiri dari dua warok tua, sejumlah warok muda, pembarong dan penari Bujang Ganong dan Prabu Kelono Suwandono. Jumlahnya berkisar antara 20 hingga 30-an orang. Peran sentral berada pada tangan warok dan pembarongnya. Ini saya tunjukkan ketentuan penampilan reog untuk festifal yang akan datang.” Kakek itu menunjukkan brosur pada bapak. Aku pun melihatnya. Berikut ini adalah tabel Unsur-unsur dalam penampilan Reog Ponorogo yang tertulis pada brosur kakek itu.
No
Tugas
Jumlah Minimal
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Warok tua
Penari warok
Penari Jathilan
Penari Bujangganom
Penari Kelonosewandono
Pembarong
Pengrawit dan Penyenggak / Vokal
2 orang
10 orang
4 orang
1 orang
1 orang
2 orang
14 orang


Jumlah Minimal
32 orang

( Sumber:Dinas Pariwisata dan Seni Budaya Kabupaten Ponorogo)
Selain itu, disebutkan juga peralatan gamelan Instrumen pengiringnya, yaitu:
1. Satu buah kendang yang bentuknya bulat panjang.
2. Satu buah trompet/ peniup.
3. Dua buah ketug atau kenong
4. Satu buah tipung
5. Dua buang angkung
6. Satu buah kempul
7. Satu buah Gayor untuk bergantung ketuk, kenong dan kempul.
Adapun Pelaku-pelaku di dalam penampilan Reog adalah sebagai berikut:
1. Prabu Klonosewandono.
Pelakunya berpakaian seperti Prabu Bolodewo dalam pewayangannya dan memakai topeng Klonosewandono yang bermuka merah. Alat-alat yang harus dilengkapi adalah celana panjang cinde warna merah, Kain panjang atau jarit parang barong warna putih, stagen cinde warna merah, uncal, sampur merah dan kuning. Ulur merah, cakep warna merah, keris Blagkrok, Topeng, binggel dan pecut Samandiman.
2. Pujangganom atau Pujanggo Anom. Pelakunya memakai topeng Pujangganom yang matanya melotot, hidunnya besar dan rambutnya terurai menkutkan.
3. Singobarong, yaitu nama seekor raja harimau yang gagah perkasa, berambut gimbal, diatasnya bediri seekor Raja Merak yang amat elok rupawan yang sedang mengembangkan bulu sayap dan ekornya. Barongan dan dhadak merak.adalah dua buah benda yang masing-masing bisa dipisahkan. Kalau dua benda itu disatukan benda itu menjadi Reog yang beratnya mencapai 40 kg.
4. Pembarong adalah seorang laki-laki dewasa yang menjalankan barongan dan dhadak merak. Pakaian yang dipakai pembarong adalah: celana panjang gombyok, embong gombyok, sabuk/ epek timang hitam, stagen, cakep hitam, dan baju kimpleng merah. Seorang pembrong haruslah kuat. Biasanya badan seorang pembarong sangatlah kekar dan tangguh. Selain itu juga harus memiliki kekuatan rahang yang baik untuk menahan gigitan beban Reog.
5. Warok tua yaitu orang yang setia dan taat pada kepercayaannya. Warok tua adalah tokoh pengayom, sedangkan warok muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu.
6. Jathilan yaitu kuda kepang yang menggambarkan prajurit berkuda. Pada zaman dahulu yang menaiki kuda kepang adalah laki-laki yang belum dewasa dan bagus parasnya. Sebenarnya jathil adalah bakal warok atau bila gagal akan disebut sebagai jathilan atau pria yang dianggap seperti wanita, sekalipun berkelamin pria. Tetapi pada zaman sekarang sudah tidak pernah ada laki-laki yang menjadi jathil melainkan wanita .
7. Potrodjoyo dan Potrothole, yaitu dua orang yang memakai topeng berlainan. Gerakannya lucu. Dagelan ini tidak merupakan syarat wajib dalam penampilan Reog. Ini hanya sebagai pengisi waktu jika ada waktu luang dalam penampilan reog.
Keseluruhan unsur diatas merupakan pelaku-pelaku yang merupakan satu unit kesenian Reog Ponorogo.
Setelah selesai membaca seluruh brosur itu, bapak mengembalikannya pada kakek tadi. Namun tiba-tiba kakek itu menitikkan air mata.
“Kenapa bapak menangis?” Tanya Pakdhe Dion.
“Aku teringat almarhum Bapak Heru Subeno, Mbah Darwi dan Mbah Wo Kucing. Ponorogo telah kehilangan pakar dan pemerhati reog. Perjuangan dan peran serta mereka dalam pelestarian kesenian reog sangat luar biasa. Cita-cita luhurnya untuk melestarikan reog akan terus dikenang oleh masyarakat sampai kapan pun. Sebelum meninggal, bapak Heru Subeno menjadi pelatih pada paguyupan Reog perwakilan Kecamatan Kota. Beberapa bulan latihan dilakukan dengan kerja keras.
Hasilnya, baru sekali dalam sejarah Ponorogo menjadi pemenang pertama dalam festival Reog. Sebenarnya masih banyak cita-cita yang akan diraihnya. Tapi…. Kehendak yang Kuasa lain. Tuhan telah memanggilnya.” Kakek itu berhenti berbicara. Ia mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia lalu menyalami dan meninggalkan kami.
Aku pun tercengang mendengar cerita kakek itu. Betapa sedih kehilangan orang yang sangat diperlukan. Tapi aku yakin reog di Ponorogo tidak akan pernah punah. Anak-anak seusia Andika sudah memiliki rasa cinta pada reog. Aku melihat sendiri bagaimana anak-anak sudah mencintai reog sejak kecil. Seakan-akan jiwa reog sudah mendarah daging bagi masyarakat Ponorogo.
“Kapan saja ada pementasan reog di Ponorogo, Pakdhe?” tanyaku pada pakdhe.
“Sering ada pementasan reog di Ponorogo. Reog biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa. Misalnya, pernikahan, khitanan, hari-hari besar Nasional, pada festival reog, hari jadi Ponorogo masih banyak lagi.”
“Bagaimana urut-urutan tarian reog?” tanyaku lagi.
“Tarian Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Tarian pertama dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. Muka mereka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu.
Setelah tarian pembukaan selesai, baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita pendekar,
Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adapun adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak.” tutur pakdhe panjang lebar.
Setelah semua pertunjukan selesai dan semua pemeran sudah melakukan latihan, kami meninggalkan Padepokan Reog. Selanjutnya, pakdhe Dion mengantar kami ke rumah bapak bapak Sarbani.
***
Bapak Sarbani adalah pengrajin reog yang tinggal di jalan Jola-joli nomor 90 Tambakbayan Ponorogo. Aku ingin melihat pembuatan reog dari dekat.
Dari depan rumah bapak Sarbani, orang bisa menebak kalau pemilik rumah itu adalah seorang pengrajin reog karena ada sebuah reog di teras rumah. Selain itu berbagai peralatan tampak berserakan di sana-sini. Bapak Sarbani orangnya ramah dan baik. Beliau mempersilahkan kami dengan ramah. Usianya lima puluhan tahun Setelah memperkenalkan diri, kami pun bertanya banyak hal soal proses pembuatan Reog.
“Sejak kapan bapak menekuni usaha sebagai pengrajin reog ini?” tanya bapak mengawali pembicaraan.
“Sejak tahun 1957. Awalnya saya melihat teman saya membuat reog. Kemudian saya mencoba mengembangkan usaha sendiri.”
“Adakah Negara lain yang memesan reog kepada Bapak?” tanyaku.
“Ada”
“Malaysia ya pak?”
“Salah satunya Malaysia. Ada juga dari Amerika dan Siria”
“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat sebuah reog?” Tanya bapak.
“Pembuatan satu unit Reog memerlukan waktu paling cepat 2 bulan ditambah beberapa hari untuk memberikan tambahan monte dan manik-manik. Kerangka Reog bisa diselesaikan dalam waktu 15 hari. Pembuatan kepala harimau diselesaikan oleh pekerja perempuan dalam waktu 20 hari. Kerangka burung 5 hari dan kerangka arya pitulimo selama 15 hari.
Waktu yang paling lama adalah pada saat pembuatan rangka yang terbuat dari kayu dhadap, bambu, rotan dan benang. Pemasangan rangka bisa mencapai 15 hari. Setelah membuat rangka, barulah melakukan pemasangan bulu merak yang memakan waktu hingga sepekan” jelas bapak Sarbani.
“Dari mana mendapatkan bulu meraknya? Bukankah di Indonesia merak adalah hewan yang dilindungi?” Tanya Andika.
“Ya memang. Tapi saya masih bisa mendapatkan dari Cepu, Bojonegoro, Surabaya, Situbondo dan bahkan dari Sumatera. Kadang juga harus diimpor langsung dari India dan Malaysia.”
“Berapa jumlah bulu yang diperlukan untuk sebuah reog?” tanyaku.
“Satu unit Reog memerlukan 2 juta biji bulu merak. Satu putaran sebanyak 160 bulu, 100 merak dan 1 dada harganya Rp. 1,5 - 2,5 juta tergantung besar dan kecilnya.”
“Wah banyak sekali! Lalu kepala harimaunya didapat dari mana? Bukankah harimau juga hewan yang dilindungi?” tanyaku lagi.
“Untuk kepala harimau, harga satu kulit harimau yang baik adalah berasal dari Sumatra harganya adalah 17 sampai 18 juta. Tapi itu jarang ada. Kalau ada harganya terlalu mahal. Oleh karena itu, kepala harimau kadang dibuat tidak asli dari kulit harimau.”
“Mata barongan itu dari apa bahannya?” Tanya Andika.
“Biji matanya terbuat dari kaca atau kelereng,” jawab pak Sarbani singkat.
“Lalu rambut barongan itu dari rambut apa?” tanyaku sambil menunjuk reog yang dipajang di dinding.
“Rambut itu didapat dari ekor kuda. Kadang-kadang dari ekor sapi juga. Dengan adanya rambut itu kepal harimau tampak hidup dan gagah”
“Wou… Ternyata membuat reog sungguh rumit dan mahal bahannya. Kalau sudah jadi, berapa harga sebuah reog?” tanyaku.
. “Jika sudah jadi satu unit Reog, harga jualnya per unit mencapai 45 sampai 50 juta”
Begitulah kami bertanya jawab dengan bapak Sarbani yang memiliki 12 orang karyawan. Setelah puas mengetahui banyak hal tentang pembuatan reog kami berpamitan.
***
Pakdhe mengajak kami singgah ke rumah temannya. Katanya, temannya itu adalah seorang pembarong. Rupanya Pakdhe tahu benar kalau saya sangat penasaran dengan pembarong sang membawa dadak merak yang beratnya 50 kilo itu.
“Tidak sulit mendapatkan seorang pembarong di Ponorogo ini, nak Fahri,” katanya. “Setiap kecamatan dipastikan memiliki paguyuban Reog”
“Apa pekerjaan pembarong itu, Pakdhe?” tanyaku.
“Biasanya para pembarong memiliki pekerjaan lain yang bisa digunakan untuk menopang perekonomian keluarga. Mereka ada yang jadi seorang guru, pegawai, petani dan wiraswasta. Sama saja dengan orang kebanyakan”
“Mengapa mereka menjadi pembarong?” Tanyaku.
“Seseorang menjadi seorang pembarong karena beberapa hal. Diantaranya adalah karena mendapatkan wahyu. Wahyu didapatkan karena ada garis keturunan seorang pembarong. Namun tidak setiap pembarong mendapatkan wahyu. Banyak juga yang menjadi pembarong karena keinginannya untuk melestarikan kesenian Reog. Kalau teman Pakdhe, menjadi pembarong karena memiliki jiwa seni untuk mementaskan Reog. O ya, ada juga yang menjadi pembarong karena hobi. Alasan menjadi seorang pembarong itu bermacam-macam” tutur pakdhe.
Kami tiba di rumah teman Pakdhe. Namanya adalah bapak Tubi. Tubuhnya kekar dan lehernya besar. Giginya kuat dan putih. Tampak sekali kalau bapak Tubi rajin merawatnya.
Pakdhe memperkenalkan kami pada pak Tubi. Dengan ramah ia mempersilakan duduk. Kami pun berbincang-bincang dengan santai di teras rumahnya sambil melihat tanaman hias yang beraneka warna bunganya. Di depan rumahnya juga ada sebuah kolam kecil yang ada air mancurnya. Aku menilai selera seni pak Tubi ini sangat besar.
“Sejak kapan Bapak menjadi pembarong?” tanyaku.
“Sejak saya masih remaja”
“Apa tugas pembarong itu?”
“Tugasnya adalah menggigit dan memangkul Barongan Reog Seberat 50-60 kg dalam pementasan reog”
“Digigit?”
“Ya. Pembarong, harus memiliki kekuatan ekstra. Dia harus mempunyai kekuatan rahang dan gigi”
“Apakah semua orang bisa menjadi pembarong?” Tanya Andika.
“Siapa saja bisa menjadi pembarong asalkan memiliki persyaratan tertentu”
“Apa saja?”
“Memiliki kepedulian terhadap kelangsungan Kesenian Roeg Ponorogo, memiliki jiwa seni, memiliki kesenangan terhadap kesenian Reog Ponorogo, memiliki dorongan dari dalam hati nurani untuk menjadi seniman Reog, mau berlatih dengan tekun dan bersungguh-sungguh, memiliki rahang yang kuat, memiliki gigi-gigi yang kuat dan yang juga memiliki tubuh yang kuat.”
“Wah berat juga ya? Pada saat akan tampil, apa yang Bapak persiapkan?”
“Mempersiapkan diri dengan baik paling tidak dua hari sebelum tampil. Saya harus menyusun tenaga dengan banyak istirahat. Juga, minum Jamu dan menjaga gigi dengan baik. Untuk itu saya mengurangi makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin. Menjaga stamina tubuh agar tatap fit dan berenergi. Begitulah.” Jelas pak Tubi.
Sebenarnya kami masih mau berbicara banyak hal tentang pembarong, namun Pak Tubi harus melatih tari reog di aloon-aloon. Setiap malam bulan purnama ada pementasan reog di aloon-aloon. Yang menampilkan reog dijadwal oleh pemerintah daerah secara bergantian. Kebetulan pak Tubi menjadi pemimpin paguyupan reog yang akan mengisi pementasan malan bulam purnama mendatang. Kami pun berpamitan pulang.
***
Semakin mengetahui banyak hal tentang Reog Ponorogo, saya merasa semakin penasaran untuk mengetahui lebih banyak lagi.
“Bagaimana sebenarnya sejarah asal mula reog itu, Pakdhe?” tanyaku.
“Wah kalau masalah sejarah reog, banyak versinya. Saya sempat membaca sejarahnya dari internet tepatnya di Wikipedia. Dikatakan di situ, pada dasarnya ada lima versi cerita populer yang berkembang di masyarakat tentang asal-usul Reog dan Warok. Salah satu cerita yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu,
Ki Ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari pihak rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan prilaku raja yang korup, ia pun melihat bahwa kekuasaan Kerajaan Majapahit akan berakhir. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan "sindiran" kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.
Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa Barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya.
Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya.
Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam.
Walaupun begitu, kesenian Reog masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer diantara masyarakat. Namun, jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono dan Dewi Songgolangit.”
“Cerita asal mula reog versi lainnya bagaimana?” tanyaku.
“Ceritanya tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri.
Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan.
Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan 'kerasukan' saat mementaskan tariannya. Masyarakat Ponorogo mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai warisan budaya yang luar biasa, begitu!” jelas pakdhe. “Ngomong-ngomong, kita belum makan nih. Bagaimana kalau kita cari makan.”
“Kita cari minum dulu, Pak. Haus sekali…” usul Andika.
“Baiklah. Kita akan menikmati minuman khas kota Reog”
“Horeee,” sorak Andika girang.
Aku dan bapak yang belum pernah mengetahui minuman khas Ponorogo hanya dian dan mengikuti saja ajakan pakdhe.
















3
Makanan Khas
“Pergi ke Ponorogo kurang lengkap jika belum minum dawet Jabung.” Ujar Pakdhe.
“Betul!” sahut Andika. Tampaknya ia ingin sekali menikmati dawet Jabung.
“Memang enak?” tanyaku.
“Tidak” jawab Andika bergurau.” Kalau sudah merasakan baru terasa enaknya. He…he…” katanya sambil tertawa-tawa.
“Mengapa namanya dawet Jabung?” Tanya bapak.
“Karena berasal dari desa Jabung kecamatan Mlarak yaitu pusat penjual dawet Jabung. Dawet Jabung sangat terkenal bagi masyarakat Ponorogo. Di desa Jabung, ada deretan warung dawet Jabung. Warung-warung itu selalu ramai oleh pembeli. Pembelinya mulai pejalan kaki sampai pemilik mobil mewah. Letaknya tidak jauh dengan pondok modern darusalam Gontor yang terkenal itu. Oh ya, ada satu hal yang membuat senang banyak orang”
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Penjualnya” jawab pakdhe singkat.
“Penjualnya bagaimana?”
“Menarik hati. Cuantik. He…he…” jawab Andika cekikikan.
Sesekali tawa kami berderai jika Andika membuat lelucon. Tidak berapa lama, sampailah kami pada warung dawet Jabung yang berderet-deret di pinggir jalan. Pakdhe memesan empat mangkuk dawet Jabung.
Akulah yang pertama kali mendapat kesempatan disodori semangkuk dawet Jabung. Aku menarik lepek atau cawan penyangga mangkuk. Penjual juga menariknya. Sesaat terjadilah tarik-menarik antara aku dengan penjual. Andika yang mengetahui hal itu justru mentertawaiku.
“Ayo terus tarik” katanya setengah mengejek.
Akhirnya penjual itu berkata: “Dik lepeknya hanya satu. Yang diambil mangkuknya saja”
“He…. He…. Aku sengaja tidak memberitahukan hal ini. Aku ingin mengetahui apa yang akan terjadi jika pembeli tidak mengetahui kebiasaan yang teradi di sini. Nah benar juga dugaanku. Banyak pendatang menarik lepek itu. Padahal, lepek itu tidak boleh ditarik, Ada mitosnya” jelas Pakdhe.
“Maaf, aku tidak tahu” kataku.
Aku lalu menyeruput dawet yang telah dihidangkan. Wow… Rasanya mak nyus.
“Apa bahan-bahannya?” tanyaku.
“Cendolnya terbuat dari tepung garut, santan dan kuahnya terbuat dari gula putih dimasak beraroma pandan wangi. Juga tape ketan hitam. Juruhnya terbuat dari saus gula putih yang dicampur dengan legen. Legen adalah hasil nderes (panen) bunga batang aren lalu airnya di tampung dalam wadah bumbung bambu, biasanya di panaskan sedikit supaya tidak cepat basi. Jika legen tidak cepat digunakan, semalam saja legen akan menjadi minuman yang memabukkan” jelas mbak penjual yang cantik itu.
”O ya apa mitosnya tadi, Pakdhe?” tanyaku.
“Mitos yang dipercaya oleh masyarat Ponorogo adalah, jika ada pembeli laki-laki yang mengambil lepek, dan si penjual membiarkannya berarti sang penjual bersedia “Menikah” dengan laki-laki tersebut, sebaliknya jika laki-laki tersebut sengaja mengambil lepek berarti ia “Naksir” terhadap penjualnya.”
Aku malu sekali mendengar cerita itu. Pantas saja Andika mentertawaiku. Itulah keunikan dawet Jabung Ponorogo. Selain unik, rasanya memang enak dan nikmat sekali. Tidak heran jika orang penasaran untuk menikmati dawet Jabung. Dawet Njabung tidak membuat orang bosan meminumnya. Saya pasti ketagihan jika lama tidak meminumnya. Orang-orang Ponorogo biasa mampir ke angkringan dawet Njabung pada siang hari untuk sekedar menghilangkan dahaga.
Penjual sangat perigel mengambil mangkuk, cawan, memegang irus (gayung) yang bertangkai tokoh wayang, Janoko. Lalu Menyiduk cendol, santan, juruh, air garam, tape ketan hitam, gempol dan memberikan es batu sesuai dengan selera pembeli. Dawet itu lalu disajikan dalam mangkuk dan sendok bebek di atas tatakan kecil.
Sambil menanti penyajian dawet para pembeli bisa menikmati berbagai hidangan yang ada di meja. Jajanannya yaitu: tempe goreng, cucur, pisang goreng, tape ketan, pia-pia, tahu isi, lumpia, dadar gulung, gethuk, tahu goreng, rimbil dan gandos. Itu semua adalah makanan khas di desa Njabung.
“Sejak kapan ada dewet Jabung ini, Mbak?” tanyaku.
“Wah… tidak tahu mas. Sejak nenek moyang” jawab mbak penjual dengan suara yang merdu.
“Begini ceritanya, Fahri. Dulu adanya dawet Jabung berkaitan erat dengan legenda warok Suromenggolo, yang terkenal sakti mandraguna dan merupakan tangan kanan R. Bhatoro katong. Suatu hari Warok Suromenggolo terlibat perang tanding melawan Jim Klenting Mungil yang menguasai gunung Dloka dan mempunyai pusaka andalan yaitu Aji dawet upas.
Ajian ini berbentuk cendol dawet yang terbuat dari mata manusia. Terkena ajian dawet upas seketika tubuh warok Suromenggolo menderita luka bakar dan ia pingsan seketika” tutur Pakdhe Dion.
“Kok bapak tahu?” Tanya Andika.
“Ya dong. Bapak membaca sejarah Ponorogo. Makannya kamu harus rajin membaca.”
“Kelanjutan cerinya tadi bagaimana?” tanyaku.
“Warok Suromenggolo akhirnya ditolong oleh seseorang pengembala sapi bernama Ki Jabung. Setelah diguyur dawet buatan Ki Jabung, seketika luka yang diderita Warok Suromenggolo sembuh, bahkan dapat mengalahkan Jim Klenting Mungil dan Jim Gento. Sebagai ungkapan terima kasih, Warok Suromenggolo bersabda, kelak masyarakat desa Jabung akan hidup makmur karena berjualan dawet. Begitulah ceritanya. Kini hampir seluruh warga desa Jabung berjualan dawet. Walaupun hanya warung dawet sederhana, namun rata-rata kehidupan mereka berkecukupan” tutur Pakdhe Dion.
“Apakah hal ini berkat sabda Warok Suromenggolo?” Tanya bapak yang sejak tadi diam saja sambil menikmati tahu goreng.
“Mungkin. Namun tidak ada yang bisa membuktikannya. Yang jelas dawet Jabung adalah warisan dari nenek moyang”
Setelah perut kami kenyang dengan jajanan meja dan dawet Jabung, Pakdhe menanyakan jumlah yang harus dibayar. Ternyata
harganya tidak mahal. Satu mangkuk dawet hanya berharga seribu rupiah. Sedangkan jajan per biji hanya senilai limaratus rupiah.
****
“Kamu sudah lapar?” Saya ajak kamu menikmati sate Ponorogo,” kata pakdhe begitu kami dalam perjalanan pulang dari desa Jabung.
“Tidak usah, Mas, Nanti Pakhe Raji kecewa kalau saya tidak makan di rumah” jawab bapak.
“Tenang saja. Dia orangnya baik kok. Mumpung ada di Ponorogo. Tidak lengkap kalau tidak makan sate ayam.”
“Memangnya apa bedanya denga sate ayam kebanyakan?” tayaku.
“Lihat saja nanti. Kita ke Gang Sate di jalan Lawu. Hampir semua orang di gang itu berjualan sate ayam. Ada satu nama yang terkenal yaitu Sobikun. Inilah pelopor sate Ponorogo di gang ini.
Sampai di tempat itu, Pakdhe memesan empat porsi sate ayam. Tidak lupa kami juga memesan minuman. Kami menanti beberapa saat pembakaran satenya. Aku rasa prosesnya tidak berbeda dengan proses penyajian sate lainnya. Setelah siap, sate pun disajikan dengan lontong kupat.
“Coba rasakan bedanya!” kata pakdhe sambil menyodorkan sepiring sate dan lontong kupat.
“Wow… rasanya mak nyus!” kataku menirukan pembawa acara pada wisata kuliner.
Memang benar, sate ayam Ponorogo rasanya gurih dan manis! Potongan dagingnya besar-besar dan panjang. Inilah yang membedakan sate Ponorogo dengan daerah lain.
Sebelum dibakar, daging ayam dibumbui lebih dulu. Selama proses pembakaran, sate ayam dicelupkan dalam larutan gula merah dan kecap berulang-ulang kali sehingga rasanya meresap. Pantas saja banyak orang senang sate Ponorogo.
“Ayo tambah lagi, Fahri!” seru pakdhe.
“Terimakasih, Pakdhe. Saya sudah kenyang.”
Setelah menikmati sate Ponorogo, kami pulang. Hari sudah sore ketika kami tiba di rumah mbah Raji. Aku beristirahat di kamar Andika.
Walau kecil kamar Andika rapi dan bersih. Di dinding kamarnya terpasang sebuah topeng Pujangganom.
“Kamu juga bermain reog?” tanyaku sambil merebahkan tubuhku di tempat tidur Andika.
“Ya. Di sekolahku ada pelajaran Muatan lokal Kesenian Reog”
“Wah… menarik sekali. Apa saja yang diajarkan?”
“Saya diajari sejarah reog Ponorogo, lalu peralatan yang diperlukan pada pementasan reog juga pakaian yang harus dipakai para pemainnya. Pada akhir pelajaran para siswa juga diajari menari reog. Setiap siswa diberi tugas untuk memerankan satu peran karena pemeran dalam reog itu banyak sekali. Saya bersama dua teman saya bertugas sebagai penari Pujangganon. Oleh karena itu aku membeli topeng Pujangganom di aloon-aloon. Namun demikian, pada dasarnya setiap siswa dilatih untuk memerankan tokoh-tokoh dalam reog.”
Aku dan Andika terus becakap-cakap. Tidak terasa lama-lama kami terbawa ke alam mimpi. Kami tertidur pulas setelah seharian berkeliling Ponorogo.


















4
TEMPAT WISATA

Pelaksanaan resepsi penikahan dilaksanakan pada sore hari. Saya masih mempunyai kesempatan untuk berkeliling Ponorogo. Pagi ini aku akan melihat telaga Ngebel. Pakdhe bersedia mengantarkan ke tempat yang indah itu. Kali ini ibu ikut serta karena persiapan pernikahan sudah beres semua.
Kami berangkat pada pukul enam pagi. Pakdhe Dion menyetir mobilnya. Bapak duduk disampingnya. Aku, ibu dan Andika duduk di belakang. Kami pergi bersama ke telaga Ngebel.
Dari brosur tempat wisata Ponorogo yang aku baca, aku mengetahui kalau obyek wisata Telaga Ngebel terletak sekitar 24 km kearah timur laut dari pusat kota Kabupaten Ponorogo Jawa Timur, tepatnya berada di Gunung Wilis dengan ketinggian 750 meter diatas permukaan laut, dengan suhu sekitar 22 derajat celcius. Luas permukaan telaga 15 km dengan dikelilingi jalan sepanjang 5 km.
Di sepanjang perjalanan aku melihat pemandangan yang indah. Begitu tiba di Ngebel, kami semua turun dari mobil. Udara terasa sejuk. Angin sepoi-sepoi di obyek wisata Telaga Ngebel. Pemandangan yang asri dan indah itu sungguh menarik. Aku melihat pencari ikan asyik menangkap ikan di telaga.
Kami lalu masuk ke salah warung untuk makan pagi. Menu utama di warung-warung itu adalah ikan bakar dari telaga. Ikan bakar itu disajikan bersama nasi hangat, sambal dan lalapan. Pagi-pagi makan nasi hangat dan ikan baker rasanya nikmat sekali. Sambil makan aku bias menikmati pemandangan yang indah pula.
Telaga Ngebel dikelilingi popoh-pohon yang rimbun di lereng gunung. Andai saja telaga ini dikembangkan lagi pasti akan menjadi tempat wisata yang menarik seperti telaga Sarangan di Magetan. Tapi sayang sekali tampaknya telaga ini kurang mendapatkan sentuhan.
Sambil menikmati ikan bakar, kami bercakap-cakap tentang berbagai hal. Aku tidak melewati setiap kesempatan untuk mengetahui lebih banyak tentang Ponorogo.
“Selain telaga Ngebel ini, tempat wisata apa yang ada di Ponorogo?” tanyaku setelah menelan nasi dan ikan bakar yang sungguh nikmat rasanya.
“Ponorogo tidak memiliki banyak tempat wisata. Tempat yang sering dikunjungi orang adalah aloon-aloon kota. Setiap sore banyak orang berdatangan kea loon-aloon. Para pedagang meramaikan aloon-aloon. Berbagai makanan dijual di sana. Ada pisang molen, getuk ketela, kacang rebus, kacang goring, martabak, terang bulan, berbagai makanan yang digoreng dan masih banyak lagi.
Selain berbagai jenis makanan, juga tersedia beberapa sarana untuk hiburan anak-anak. Ada persewaan mobil mini, ada kereta wisata, delman dan kemedi putar. Orang tua yang memiliki anak kecil sering pergi kea loon-alonn untuk sekedar menyuapi anaknya.
Banyak juga penjual mainan anak-anak, penjual sepatu, baju dan juga topeng serta peralatan reog Ponorogo. Harga barang-barang yang dijual di aloon-aloon sangat terjangkau sehingga orang lebih senang belanja di sana.” Tutur pakdhe.
“Wah… tampaknya menyenangkan sekali pergi kea loon-aloon?” sahutku. “Kalau ada kesempatan, kita mampir kesana Pakdhe. Saya akan membeli baju warok.”
“Tenang saja. Pasti kamu akan saya antar kesana. O ya…, ada cerita asal-usul telaga ini,” ucap Pakdhe sambil mengigit lalapan kacang panjang.
“Bagaimana ceritanya, Pakdhe?” tanyaku.
“Dulu ada seekor ular naga bernama "Baru Klinting". Sang Ular itu sedang bertapa. Kala itu, secara tak sengaja tubuhnya dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dimakan. Ajaib sekali, sang ular menjelma menjadi anak kecil. Anak itu mendatangi masyarakat dan membuat sayembara, untuk mencabut lidi yang ditancapkan di tanah. Orang-orang pun berusaha untuk mencabutnya.
Namun tak seorangpun berhasil mencabutnya. Ia sendirilah yang berhasil mencabut lidi itu. Dari lubang bekas lidi itu keluar air yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuklah Telaga Ngebel seperti sekarang ini.” tutur Pakdhe.
Setelah selesai makan, kami berputar mengelilingi telaga. Di pinggir-pinggir telaga, terdapat penjual aneka ragam buah seperti durian, manggis, dan pundung.
“Suasana agak sepi pada hari begini. Puncak keramaian terjadi satu tahun sekali. Pada tahun baru Hijriyah atau tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro. Dilaksanakan Larungan Sesaji. Sesaji itu berupa gunungan nasi, lauk, sayur dan buah yang sangat besar. Gunungan itu dimasukkan ke dalam telaga. Itulah rutinitas pada tanggal 1 Suro.”
“Wah… aku jadi pengin ke Ponorogo lagi” ucapku.
“Lain kali. Sekarang kita harus cepat pulang untuk persiapan resepsi pernikahan.” Kata ibu.
Kami pun pulang walau hari belum begitu siang.
****
Waktu resepsi pernikahan yang tertulis di undangan tertulis pukul satu siang. Namun acara dimulai pada pukul tiga sore. Kata Ibu, tradisi pernikahan di Ponorogo memang demikian. Waktunya sering molor. Kata orang Ponorogo jam pada resepsi pernikahan adalah jam karet. Karena keterlambatan waktu pelaksanaan, waktu selesainyapun molor juga. Pukul setengah enam acara baru selesai.











5
MITOS

Pada malam hari setelah resepsi pernikahan itu, suasana rumah mbah Raji tidak ramai lagi. Lagu-lagu campursari tidak diputar seperti kemarin. Aku tidak terganggu dengan suara musik yang diputar keras sekali. Orang-orang yang kemarin bekerja di dapur mempersiapkan resepsi pernikahan tampak kelelahan. Mereka pulang ke rumah masing-masing untuk istirahat.
Malam ini kami menginap di rumah mbah Raji. Aku, Andika, bapak dan mbah Raji tiduran di karpet yang digelar di ruang tamu. Namun sampai malam kami tidak bisa tidur. Kami pun berbincang-bincang tentang berbagai hal.
“Sebelum menikah dengan Hartono ini, adikmu pernah menyambung hubungan dengan orang Mirah, tetangga desa sebelah. Namun aku melarangnya. Aku tidak mau sesuatu yang jelek bakal terjadi,” ucap mbah Raji membuka cerita lama putrinya.
“Memangnya mengapa, Pakdhe?” Tanya bapak penasaran.
“Ada mitos yang dipercayai oleh masyarakat di Ponorogo bahwa orang dari desa Mirah tidak boleh menikah dengan orang dari desa Golan. Kepercayaan itu berlaku turun-temurun dari zaman nenek moyang sampai saat ini”
“Apa mitos itu, Pak?” tanyaku begitu mendengar cerita mbah Raji.
“Mitos itu cerita yang diyakini oleh masyarakat dan dijadikan sebagai panutan,” jawab bapak.
“Siapa yang membuat mitos itu?” tanyaku lagi.
“Ada ceritanya tentang asal-mula mitos ini. Kamu mau mengengarkan?” tanya mbah Raji.
“Fahri paling senang mendengarkan cerita, Mbah. Ia tidak pernah menolak untuk mendengar cerita. Setiap malam saya selalu dimintanya bercerita sampai ia terlelap tidur,” kata bapak.
“Ah…bapak membongkar rahasia saja. Bagimana ceritaya, Mhah?”
“Cerintanya panjang. Tidak mengantuk? Benar mau mendengarkan cerita?”
Aku dan Andika mengangguk hampir serentak.
“Begini ceritanya…. Pada permulaan abat XIV tepatnya di desa Golan Kecamatan Sukorejo kabupaten Ponorogo, hiduplah seseorang yang bernama Ki Honggolono. Ia adalah seorang guru yang memiliki murid-murid dan pengikut-pengikutnya.
Ki Honggolono orang yang pemberani dan sakti mandraguna sehingga orang-orang di desa itu segan terhadapnya. Apalagi, ia sebagai seorang kepala desa. Ia amatlah bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan. Sehingga rakyatnya sering menjuliki ia dengan sebutan Ki Bayu Kusumo.
Ki Honggolono mempunyai seorang anak laki-laki yaitu si Joko Lancur. Joko Lancur adalah pemuda yang tampan dan gagah berani. Namun, ia mempunyai kegemaran menyabung ayam atau mengadu jago. Kemanapun ia pergi pasti membawa seekor jago, ayam jantan kesayangannya.
Suatu hari ia akan menyabung ayamnya di desa Polorejo dengan seorang teman. Namun, ketika lewat di desa Mirah tiba-tiba ayamnya lepas dari himpitannya dan lari ke belakang rumah bagian dapur Ki Ageng Mirah atau Ki Honggojoyo. Ia adalah adik sepupu dan adik seperguruan Ki Ageng Honggolono.
Adapun yang sedang di dalam dapur Ki Ageng Mirah yaitu seorang gadis cantik yang bernama Mirah Putri Ayu. Ia anak Ki Ageng Honggojoyo yang saat itu sedang membatik kain.
Mirah Putri Ayu terkejut ketika tiba-tiba ada seekor ayam Jago masuk ke rumanya. Lalu Mirah Putri Ayu menangkap dan memegang Jago itu. Ia amat senang karena jago itu amat jinak. Tidak lama kemudian Joko Lancur datang dan masuk ke dalam dapur Ki Ageng Honggojoyo untuk mencari ayamnya.
Joko Lancur terpesona dan kaget ketika masuk dalam dapur itu karena yang dicari-cari dipegang Mirah Putri Ayu, gadis cantik yang menjadi kembang desa Mirah. Orang-orang kagum melihat kecantikannya. Ia selalu menjadi buah bibir warga desa itu. Karena kecantikn itu, orang-orang memanggilnya dengan julukan Putri Mirah Kencono Wungu.
Joko Lancur menjadi gugup dan sulit untuk meminta ayamnya. Ternyata yang terjadi seperti itu bukalah Joko Lancur saja namun begitu juga dengan Putri Mirah Kencono Wunggu. Ia amat terpesona akan ketampanan dan kepolosan Joko Lancur. Keduanya saling pandang dan saling memperkenalkan namanya masing-masing hingga keduanya saling jatuh cinta.
Joko Lancur menanyakan kepada putri Mirah yang cantik jelita itu, mengapa pamannya, Ki Honggolono tidak pernah memperkenalkan anaknya sebelumnya. Lalu putri Mirah menjelaskan bahwa memang ia menjadi gadis pinggitan dan dilarang bergaul dengan pria oleh ayahnya.
Rupanya kedua anak pemuda pemudi itu saling bercanda dan bergurau sehingga mereka lupa waktu. Hingga keduanya kaget ketika mendengar suara Ki Ageng Mirah yang berada di luar rumah. Putri Mirah lekas-lekas menyerahkan ayam jago pada Joko Lancur dan menyuruh Joko Lancur untuk segera pulang. Putri Mirah amat takut dengan bayangan bapaknya jika sedang marah.
Joko Lancur segera beranjak keluar dapur, namun ketika Joko Lancur ingin keluar, ia kepergok oleh Ki Hongojoyo di dekat pintu dapur, sehingga Joko Lancur menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun rupanya Ki Ageng Mirah tidak mau menerima alasan itu. Ia marah-marah dan mencaci maki Joko Lancur sebagai pemuda yang tidak tahu diri dan sopan santun, masuk rumah orang tanpa permisi terlebih dahulu
Joko Lancurpun menyesal dan meminta maaf kepada Ki Ageng Mirah. Akhirya ia menyuruh Joko Lancur cepat pergi dari hadapannya. Maka pulanglah Joko Lancur ke desa Golan dengan perasaan malu dan mulai saat itu ia jatuh cinta.
Hari demi hari dilalui Joko Lancur dengan tidak seperti biasanya. Joko Lancur tidak pernah keluar rumah untuk menyabung ayam lagi. Yang ada di benaknya hanya Putri Mirah Ayu. Setiap harinya ia melamun dan berhayal. Ingin sekali ia bertemu dan bercanda tawa bersama Putri Mirah, pujaannya.
Tampaknya hal itu diketahi oleh bapaknya, Ki Honggolono sehingga ia menanyakan kepada Joko Lancur. Mula-mula Joko Lancur tidak mau bicara. Karena setiap hari bapaknya mendesak dan terus bertanya, akhirnya Joko Lancur mengaku. Ia bilang pernah bertemu Putri Mirah Ayu yang menjadi idam-idamannya. Ia ingin sekali membina rumah tangga dengannya. Ki Honggolono sangat kasihan terhadap anak satu-satunya itu yang setiap hari selalu merenung dan melamun.
Ki Honggolono menyuruh salah satu muridnya untuk melamar ke tempat Ki Ageng Mirah. Maka berangkatlah utusan dari desa Golan untuk melamar Putri Mirah.
Setelah sampai di desa Mirah, Ki Ageng Mirah menyambut hangat utusan dari desa Golan, walau dalam hati Ki Ageng Mirah tidak mau mempunyai menantu seorang penjudi dan penyabung ayam. Untuk mengantisipasi dan menggagalkan perkawinan itu, dan agar tidak menimbulkan perselisihan, Ki Ageng Mirah mempunyai siasat untuk menolak secara halus pinangan tersebut. Ia mengatakan bahwa ia menerima lamaran asalkan sanggup mengabulkan syarat yang ia minta.” Mbah Raji menghentikan ceritanya. Ia menyeruput air kopi di cangkir yang sudah mendingin.
“Apa syaratnya tadi, Mbah?” Adika tidak sabar untuk mengetahui cerita.
“Syaratnya ada dua, yaitu pertama membuat bendungan sungai Golan dan airnya dialirkan ke sawah-sawah yang berada di desa Mirah. Kedua, menyerahkan padi satu lumbung yang tidak boleh diantar oleh siapapun atau lumbung tersebut berjalan sendiri.
Itulah syarat-syarat yang diminta Ki Ageng Mirah sebagai siasat untuk menggagalkan perkawinan itu.
Maka pulanglah utusan dari Golan dan melaprokan kepada Ki Honggolono. Katanya, lamaran diterima asal mampu memenuhi persyaratan tersebut. Ki Honggolono sudah tahu dan menyadari hal itu. Ia yang terkenal sakti mandraguna sambil tertawa terkekeh-kekeh menyanggupi permintaan tersebut.
Di desa Mirah, Ki Ageng Mirah masih takut akan kesanggupan Ki Honggolono untuk memenuhi permintaanya. Untuk itu ia meminta bantuan Ki Kluntung Waluh yaitu genderowo untuk menggangu dan menggagalkan pembuatan bendungan serta mencuri padi-padi yang berada di lumbung padi desa Golan.
Sedangkan di desa Golan, Ki Honggolono menyuruh murid-muridnya untuk menggumpulkan padi-padi untuk mengisi lumbung sebagai serahan ke desa Mirah. Namun lumbung padi itu tidak pernah penuh, selalu kurang karena ulah Ki Klunthun Waluh yang selalu mencuri. Maka karena jengkel, Ki Honggolono menyuruh muridnya untuk mengumpulkan jerami dan titen atau kulit kedelai. Lalu dimasukkan ke dalam lumbung padi. Hal tersebut diketahui oleh Ki Klunthung Waluh, maka mulai saat itu ia tidak mencuri lagi.
Pembuatan bendungan juga selalu ambrol akibat gangguan Ki Klunthung Waluh. Karena hal itu, Ki Honggolono memanggil sahabatnya yang bernama Bajul Kowor yaitu pimpinan buaya untuk mebuat bendungan yang airnya dialirka ke sawah-sawah di desa Mirah.
Maka datanglah beribu-ribu buaya yang berjajar dan saling tumpang tindih untuk membuat bendungan. Ki Klunthung Waluh yang selalu menggagalkan usaha pembuatan bendungan itu tertangkap basah oleh Bajul Kowor, sehingga terjadi peperangan setu antara keduanya. Akhirnya Klunthung Waluh tunduk dengan Bajul Kowor dan berjanji tidak akan menggangu lagi. Mulai saat itu pembuatan bendungan lancar dan dapat diselesaikan.
Setelah semua pesiapan siap, berangkatlah iring-iringan penganten laki-laki dari desa Golan ke desa Mirah. Sebelum berangkat, Ki Honggolono menyabda lumbung padi untuk berjalan sendiri ke desa Mirah.
Setelah sampai di desa Mirah, mula-mula Ki Ageng Mirah dan murid-muridnya menyambut hangat kedatangan tamu tersebut. Ki Ageng Mirah juga melihat lumbung padi yang berjalan sendiri. Ia juga melihat lumbung padinya penuh. Sepintas isi lumbung padi itu penuh dengan padi, namun dengan kesaktiannya Ki Ageng Mirah bisa melihat bahwa isi lumbung itu ada titen, jerami dan titen,kulit kedelai.
Mengetahui hal tersebut, dia berkata kepada para siswanya untuk melihat isi lumbung yang berisi jerami dan kulit kedelai semuanya. Ia rupanya menyulap agar semua padi yang ada di lumbung menjadi damen dan titen semua tampa tersisa padinya.
Ki Honggolono menjadi marah karena perkawinan Joko Lancur digagalkan. Maka terjadilah perang mulut antara guru dengan guru dan murid dengan murid yang akhirnya menjadi perang tanding, adu jotos dan adu kesaktian.” Mbah Raji menghentikan ceritanya lagi. Ia menyalakan rokoknya. Mendengar cerita itu aku sampai-sampai menahan napas karena penasaran.
“Siapa yang menang, Mbah?” tanyaku.
“Dengar dulu saja. Masih ada cerita sebelum penentuan menang dan kalah,” ucap Mbah Raji setelah mengeluarkan asap rokok dari hidung dan mulutnya.
“Nah sekarang saya lanjutkan. Selama terjadi perang tanding antara kedua bersaudara tersebut, Joko Lancur mencari-cari Putri Mirah Ayu. Setelah bertemu kedua insan yang sedang kecewa dan sakit hati tersebut memutuskan untuk bunuh diri bersama.
Ketika peperangan sedang terjadi, tiba-tiba bendungan yang dibendung oleh Bajul Kowor ambrol dan terjadilah banjir. Akibatnya banyak mayat-mayat yang hanyut terbawa air. Ki Ageng Mirah juga ikut hanyut terbawa air namun ia belum mati.
Setelah peperangan berakhir, Ki Honggolono mencari anaknya yaitu Joko Lancur. Dia mendapati anaknya sudah mati bunuh diri bersama putri Mirah. Jenasah keduanya lalu dimakamkan di kuburan Setono Wunggu.
Setelah selesai menguburkan jasad anaknya segeralah Ki Ageng Honggolono menggumpulkan sisa-sisa orang-orang Golan dan orang-orang Mirah, dan bersabdalah Ki Ageng Honggolono, yaitu: Pertama, Orang Golan dan orang Mirah serta keturunanya tidak boleh mengadakan perjodohan. Kedua, segala sesuatu/barang (berupa kayu, air dan barang lainnya) dari Golan tidak bisa dibawa ke Mirah. Ketiga, Barang-barang dari Golan dan dari Mirah tidak bisa disatukan. Keempat, orang Golan tidak boleh m embuat atap dari jerami yang sudah kering. Keempat, orang Mirah dilarang menanam, menyimpan ataupun membuat makanan dari kedelai.
Selain kelima sabda tersebut di atas, Ki Honggolono menambahkan: “Siapa saja yang melanggar aturan tersebut akan celaka.” Selesai bersabda Ki Honggolono beserta pengikut-pengikitnya kembali ke desa Golan dengan perasaan sebal dan kecewa. Begitulah asal-mula mitos yang sampai sekarang dipercaya masyarakat termasuk saya.” Mbah Raji mengakhiri ceritanya.
“Adakah yang melanggar mitos itu, Pakdhe?” tanya bapak.
“Ada. Dulu ada warga desa Golan yang memiliki rumah dari jerami dan akhirnya terbakar. Ada juga orang dari desa Mirah yang sedang hajatan. Orang dari desa Golan membawa beras ke rumah orang yang sedag hajatan itu. Akibatnya, nasi yang dimasak tidak pernah matang. Bahkan ada juga yang melakukan pernikahan antara orang Mirah dan orang Golan. Tidak lama setelah pernikahan, sepasang suami istri itu mendapat kecelakaan sampai meninggal dunia. Karena banyak sekali kejadian aneh itulah saya juga takut. “
“Apa Mbah percaya pada mitos?” tanyaku.
“Mau tidak percaya nyatanya terjadi hal-hal aneh itu. Mau percaya belum ada bukti kebenarannya. Ya, begitulah mitos. Aku hanya tidak menginginkan sesuatu yang jelek terjadi pada keturunanku” jawab Mbah Raji.
Kami berhenti bercerita begitu mendengar suara jam dinding berdenting satu kali.
“Sudah jam satu. Mari tidur” ucap Mbah Raji. Kamipun memejamkan mata lalu tertidur lelap.




6
Selamat Tinggal Bumi Reog

Rasanya belum lama aku tidur. Mataku masih berat untuk dibuka. Tapi ibu sudah membangunkan. Kami harus segera pulang ke Surabaya. Begitu keluar dari ruang tamu, aku melihat banyak orang di halaman. Mereka sibuk membersihkan kotoran tempat snack, membereskan kursi dan membongkar tenda.
Aku harus bersiap-siap pulang ke Surabaya. Sebenarnya aku betah tinggal di Ponorogo, tapi bagaimana lagi? Aku harus masuk sekolah lagi. Setelah siap, aku berpamitan pada mbah Raji dan juga pada pengantinnya. Pakdhe Dion dan Andika mengantar kami sampai di terminal bus Selo Aji.
“Kita mampir Aloon-aloon dulu,” ucap Pakdhe Dion. Aku menurut saja. Sampai di aloon-aloon, aku melihat patung singa di sebelah utara. Di Pojok-pojok alon-alon, terdapat patung singa juga.
Mobil pakdhe Dion berhenti di depan deretan toko yang berada di sebelah utara Aloon-aloon. Di situ terdapat penjual beraneka macam pernik tentang reog. Ada topeng Pujangganong, pecut, baju warok, kaos reog, gantungan kunci dan masih banyak lagi.
“Kamu pilih apa saja yang kamu mau. Saya yang akan membayar untuk kenang-kenangan,” kata Pakdhe. Aku mengambil beberapa gantungan kunci dan satu stel baju warok lengkap dengan sabuk, udeng dan kolor. Baju itu akan aku pakai dan akan aku tunjukkan pada teman-temanku. Gantungan kuncinya akan aku bagikan pada mereka.
Pakdhe membayar semua yang saya ambil. Lalu kami berangkat menuju terminal. Sampai di sana, kami bersalaman. Sedih juga rasanya berpisah setelah beberapa hari bergaul bersama-sama, pergi bersama dan makan bersama. Ibu berjanji akan mengajakku ke Ponorogo lagi.
“Sampai ketemu lagi, Andika,” kataku sambil memeluk erat Andika. Selama dua hari ini dia sudah menjadi teman yang sangat baik dan menyenangkan.
“Dada Fahri…” katanya begitu aku naik bus yang akan menuju Surabaya. Bus yang kunaiki adalah bus Jaya Reog sama dengan yang membawaku ke Ponorogo.
Aku pulang. Pengalaman selama dua hari di Ponorogo itu akan terus aku kenang. Ponorogo, bumi Reog. Kota yang unik, kaya seni budaya dan penuh legenda. Aku bangga bisa mengetahui banyak hal tentang Ponorogo. Padahal, Ponorogo adalah bagian kecil dari Indonesia. Masih banyak lagi kota yang harus aku kunjungi. Jika Tuhan mengizinkan, Aku bercita-cita bisa menggali kekayaan seni budaya masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Semoga.

SELESAI